SURABAYA - Ratusan umat Hindu di Surabaya melakukan persembahyangan Hari Raya Galungan di Pura Segara Bulak, Surabaya, Rabu (4/1). Galungan tahun ini tampak meriah karena ratusan orang sudah mulai bisa melakukan persembahyangan pasca pencabutan PPKM.
Sejumlah ornamen, seperti penjor tiang bambu atau penjor dengan hiasan menggunakan daun kelapa terpampang di beberapa sudut pura. Tak hanya itu, ada pula ornamen dari tanaman seperti buah-buahan, beras, jagung, kelapa, sampai daun. Namun, tak terlihat adanya atraksi dan pawai yang berbeda untuk merayakan hari raya perayaan keagamaan itu.
Dalam upacara Galungan umat Hindu merayakan kemenangan kebenaran (Dharma) atas kejahatan (Adharma). Juga sebagai penanda waktu ketika roh leluhur mengunjungi bumi.
Salah satu umat Hindu yang merayakan Galungan, I Wayan Sardite mengaku senang sekali bisa turut merayakan hari raya Galungan. Sebab, pasca PPKM dicabut, suasana dan ritme sembahyang berangsur normal kembali.
"Sangat senang sekali, karena ada kebebasan untuk merayakan galungan ini. karena, kami memperingati kemenangan Dharma melawan Adharma. Jadi, seluruh umat Hindu menyambut dengan gembira," kata Wayan.
Ia juga berharap tidak ada lagi pembatasan seperti halnya PPKM. Karena menurutnya pembatasan akan lebih menyusahkan untuk melakukan ritual atau persembahyangan ketika hari besar umat beragama. "Ya semoga tidak ada pembatasan-pembatasan seperti kemarin-kemarin lagi," harapnya
Suasana dan persiapan Galungan tahun ini serupa dengan sebelum pagebluk melanda. Hanya saja, tak semarak sebelumnya lantaran masih mewaspadai korona. "Karena kami kan banyak hari raya, Galungan, Kuningan, Nyepi, dan sebagainya. Sebelum pandemi dengan sekarang ya sama, kalau pandemi kan dibatasi dan wajib jaga jarak, tapi sekarang sudah longgar tapi tetap pakai masker dan selalu waspada," ujarnya.
Sementara itu menurut Laksmi Eka, suasana Galungan kali ini sudah mulai semarak. "Kegiatan dan persiapan sama saja (seperti sebelum pandemi), tapi biasanya galungan lebih ramai dibanding kuningan, karena kan openingnya," tutur Eka.
Upacara Galungan diawali dengan percikan air suci pengiling. Satu persatu para pemdek (orang yang akan bersembayang mendapatkan air suci. Setelah itu, bersiap melakukan persembahyangan. Diawali dengan menggelar sesajen untuk dihaturkan ke Ida Sang Hyang Widhi dan suasana berlangsung khidmat. Upacara tersebut dipimpin Pemangku Pura yang melakukan prosesi Puja Tri Sandya. Lalu, diiringi bunyi lonceng sang pemangku. (rmt/jay)