Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Sentuh Hati Masyarakat Lewat Cak Tejo

Administrator • Minggu, 23 Oktober 2022 | 00:10 WIB
Photo
Photo
Puluhan anak Taman Kanak-Kanak (TK) Persatuan Dharma Wanita Jalan Ngagel Kebonsari, Surabaya, menyanyikan lagu ini dengan riang. Tidak ada wajah ketakutan seperti saat awal mereka melihat polisi di depannya. Ini tak lepas dari kehadiran Maskot Satlantas Polrestabes Surabaya, Cak Tejo.

Guntur Irianto-Wartawan Radar Surabaya

Cak Tejo langsung menyapa murid TK, beberapa pertanyaan diberikan seputar rambu-rambu hingga pengetahuan lain terkait peraturan lalu lintas. Anak-anak nampak antusias, satu persatu mereka menjawab dan senang karena mendapat hadiah.

Maskot Cak Tejo ini merupakan kostum badut dengan wajah polisi menggunakan ikat kepala atau udeng. Aiptu Aziz Mustofa adalah orang dibalik topeng maskot tersebut.

Wajah capek dengan keringat bercucuran terlihat ketika Aziz melepas kepala maskot. Namun, rasa capek anggota Dikyasa Satlantas Polrestabes Surabaya ini terbayar oleh senyum anak-anak yang mengerubunginya saat itu.

Ia tak pernah mengeluh sedikitpun mengenakan maskot tersebut. Bahkan, niat pimpinannya untuk menyewa orang mengenakan topeng Cak Tejo langsung dicegah.

"Dulu saya yang mengajukan diri untuk mengenakannya. Saya menawarkan diri ke AKBP Teddy dan Kompol Ari karena saya ingin dekat dengan anak-anak," kata Aziz.

Photo
Photo


Ia masih mengingat, pertama kali maskot ini di-launching di Taman Bungkul, Surabaya. Ia yang sudah menawarkan diri menjadi orang di balik topeng tersebut sangat senang kala itu.

Selama dua jam penuh, ia mengenakan maskot itu dan menyapa warga di lokasi. Ia berkeliling taman dan melayani foto bersama. “Capek tapi senang, saat saya buka topeng, waduh mas keringat sak jagung-jagung,” kata sembari tertawa.

Aziz ingat betul, pertama kali topeng Cak Tejo ini mengenakan topi polisi. Ia kemudian memikirkan bagaimana memiliki ciri khas Jawa Timur.

Ia pun membuat sendiri udeng yang dilihat dari pakaian Cak dan Ning. Ia membuat masker untuk topeng ini ketika memberikan sosialisasi bermasker pada masa pandemi covid-19. "Saya ke tukang jahit mas, yang jahit kaget masker kok besar. Saya beritahu untuk maskot itu, malah minta foto bareng,” kenang Aziz.

Aziz mengingat saat dulu pertama kali ia datang ke sekolah TK tanpa mengenakan kostum Cak Tejo. Anak-anak takut, suasana sulit terbangun ditambah seragam polisi yang dikenakannya.

"Mereka takut katanya, takut ditangkap dan takut dimarahi. Setelah menggunakan kostum Cak Tejo ini anak-anak senang dan tidak takut dengan polisi, saya senang anak-anak bisa melihat polisi sebagai sosok yang menyenangkan," ujar pria kelahiran Surabaya ini.

Sosok polisi yang menyenangkan mulai terbangun, anak-anak tidak lagi takut ketika bertemu dengan Cak Tejo atau Aziz. Ia mencoba terus dekat dengan anak-anak menjadi sosok polisi yang menyenangkan. Mengajak anak-anak bernyanyi, memberi hadiah bak Santaclaus dan memberi pengetahuan dasar pada anak-anak untuk taat berlalu lintas.

Aziz mengaku, tidak belajar khusus untuk bisa lebih dekat dengan anak-anak. Ia hanya mencoba tulus berkomunikasi dengan mereka. Dalam satu bulan, ia bisa 10 kali mengenakan kostum itu ke sekolah-sekolah.

Memperkenalkan pada anak-anak jika polisi adalah sosok yang menyenangkan. “Saya ingin Cak Tejo dicintai, anak-anak tidak takut dengan polisi. Polisi sahabat anak, itu yang ingin saya sampaikan semua karena kecintaan saya pada institusi saya,” ujar Aziz dengan nada bangga.

Cak Tejo menjadi sahabat anak, ini yang terus dijaganya. Ia bersyukur dengan pilihannya mengenakan maskot itu. Meskipun awalnya sang istri tidak mengetahui hal itu. Sang istri hanya tahu ia mengenakan maskot Cak Tejo.

"Bukan menjadi badut seperti itu. Mikirnya pakai baju yang sama seperti maskot itu. Istri saya baru tahu saat saya bawa kepala Cak Tejo ke rumah karena keesokan harinya hendak ke salah satu TK," terangnya.

Aziz tak pernah sedikitpun berpikir jika ia akan menjadi badut. Begitu pula dengan istrinya, namun ternyata menjadi polisi yang mengenakan maskot Cak Tejo membuatnya bangga. Bangga bisa memperkenalkan polisi yang baik dimata anak-anak.

“Saya hanya berpikir memberikan yang terbaik untuk satuan dan institusi saya itu saja. Mungkin ini salah satu yang bisa saya berikan selama pengabdian saya pada negara dan institusi saya,” tuturnya.

Aziz mengungkapkan, dari awal tidak ada keinginan apapun selain untuk bisa dekat dengan anak-anak. Memperkenalkan anak-anak pada polisi dengan kesan yang lebih humanis. Polisi yang tidak menakutkan namun menyenangkan. Ini ada pada sosok maskot Cak Tejo yang dikenakannya.

"Alhamdulillah sekarang anak-anak tidak takut dengan polisi karena Cak Tejo. Saya ingin badut polisi bisa mengambil hati anak-anak," ujar pria yang sudah berdinas selama 17 tahun ini.

Menyentuh hati anak-anak, ini salah satu cita-cita Aziz yang mungkin sudah bisa tercapai saat ini. Sentuhan Aziz melalui Cak Tejo ini dirasakan Freya salah satu murid TK. Ia yang awalnya bercita-cita sebagai dokter, langsung berganti ingin menjadi polisi usai bertemu Cak Tejo dan mendapat hadiah sebuah jas hujan.

"Saya ingin jadi polisi. Polisi yang bajunya seperti Surya (Surya insomnia yang memerankan seorang anggota satlantas di acara komedi Lapor Pak!)," katanya.

Cak Tejo dan Aziz menjadi contoh polisi yang mampu merebut hati anak-anak dan menghilangkan stigma kepolisian yang menyeramkan. Kisah Aziz seorang yang berada di bawah dengan tulus membangun citra polisi. Hanya untuk institusi yang dicintainya tanpa pamrih. (*) Editor : Administrator
#Maskot Lalu Lintas #satlantas #Sentuh Hati Masyarakat #Cak Tejo #polrestabes surabaya