Wakil Ketua Kampung Pecinan Michael Wijaya mengatakan, makanan yang akan dijual nantinya oleh UMKM semua bernuansa pecinan. Mulai dari makanan berat, ringan, hingga tradisional. "Nanti dikolaborasikan antara makanan modern dan khas pecinan. Sebagai kultur di kawasan pecinan," kata Michael, Selasa (30/8).
Tak hanya kuliner, aksesoris khas Tionghoa juga dipasarkan. Pemkot sudah mendata sejumlah UMKM sebelum Kya-Kya dibuka pada 11 September mendatang. "Jadi, untuk sementara ini yang sudah pengalaman dulu. Tahap kedua baru UMKM pemula yang akan digandeng. Juga dilakukan pelatihan oleh pemkot," jelasnya.
Toal UMKM yang akan berdagang di kawasan kya-Kya sebanyak 68 unit. Mereka terdiri dari Aprindo, UMKM Kelurahan Bongkaran, UMKM Kelurahan Nyamplungan, dan UMKM Wisata Kampung Pecinan (WKP). "Warga Nyamplungan, Bongkaran, dan WKP ada 20 lebih yang akan berjualan di Kya-Kya," tuturnya.
Pihaknya juga akan menampilkan hiburan khas seperti musik tradisional Tionghoa untuk menemani pengunjung. Wisata kota lama di Kya Kya ini bakal digelar malam hari pada Jumat, Sabtu, dan Minggu.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudporapar) Surabaya Wiwiek Widayati mengatakan, saat ini pihaknya masih melakukan penataan. Penataan di kawasan Kembang Jepun, Jalan Karet, Kalimalang, Slompretan dan sekitarnya tidak hanya secara fisik saja.
"Teman-teman masih berkomunikasi dengan banyak pihak untuk menata kelangsungan kawasan pecinan ke depannya," kata Wiwiek. (rmt/rek) Editor : Lambertus Hurek