"Pendanaannya tidak harus menggunakan APBD, tapi juga pihak swasta. Mudah-mudahan tahun depan kita bisa mulai melakukan pengembangan," kata Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) Surabaya Irvan Wahyudrajat, Selasa (23/8).
Menurut dia, ada beberapa fasilitas penunjang yang ditambah di kawasan Ampel. Termasuk pedagang kaki lima (PKL). "PKL di (Ampel) tidak tertata dengan baik. Sentra wisata Kuliner (SWK) juga kurang optimal,” katanya.
Mantan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya itu menyatakan, program atau proyek pemerintah akan melibatkan akademisi, desainer, pengusaha maupun pengembang untuk bersama-sama gotong-royong membangun Kota Surabaya. Desain pengembangan wisata Ampel karya para pemenang akan dikombinasikan menjadi grand design kawasan penunjang Wisata Ampel.
"Kami juga akan melibatkan masyarakat setempat. Tidak hanya sebagai objek, tapi masyarakat di sana sebagai subjek. Peran serta masyarakat sekitar Ampel itu sangat penting," imbuhnya.
Adithya Wira Ekaraga, peserta sayembara desain arsitektur kawasan penunjang Wisata Ampel, mengangkat karya berjudul Tuah Ing Ampeldenta. Ia bersama timnya berhasil menyabet juara pertama. “Kita melihat inspirasi dari bangunan cagar budaya di sekitarnya. Kemudian untuk elemen Islamic, kita melihat bangunan Masjid Ampel," kata Adit.
Adit mengungkapkan, konsep desain yang diusung Tuah Ing Ampeldenta lebih banyak menonjolkan struktur ruang terbuka hijau (RTH). Selain menunjang kawasan Wisata Religi Ampel, juga untuk mendukung permukiman masyarakat di sekitarnya. "Ada gedung parkir komunal, museum, dan sebagainya," ujarnya.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyampaikan, tujuan dari sayembara desain Wisata Ampel adalah melibatkan masyarakat dalam pembangunan Kota Pahlawan. "Karena saya ingin membangun Kota Surabaya dengan pemikiran bukan hanya dari pemkot. Karena kita punya banyak partner dan talenta-talenta muda yang luar biasa. Mereka memiliki kreasi yang sangat tinggi," kata Cak Eri. (rmt/rek) Editor : Administrator