“Jadi, hati-hati yang makan mi banyak. Mi dibuat dari gandum, besok harganya tiga kali lipat. Maafkan saya bicara ekstrem saja. Ada gandumnya tapi harganya akan mahal banget,” kata Syahrul.
Menanggapi sinyalemen Mentan Syahrul Yasin Limpo, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak justru optimistis harga mi instan tidak akan naik secara ekstrem. Sebab, saat ini negara-negara penghasil gandum sedang panen raya.
“Industri itu kan stoknya tiga bulanan. Jadi, kita berharap September ada bahan baku gandum masuk lagi. Karena sebenarnya negara-negara produsen bulan ini mulai panen gandum,” ujar Emil Elestianto Dardak ketika ditemui di Gedung Negara Grahadi, Rabu (10/8).
Mantan Bupati Trenggalek ini berharap musim panen di negara-negara produsen gandum ini bisa mendorong kebutuhan gandum di tanah air. Ia juga berharap ada jalur alternatif untuk mengakses gandum dari Ukraina.
“Ada negara di luar Rusia dan Ukraina yang juga diperkirakan akan menyuplai gandum ke Indonesia. Meski demikian, Rusia dan Ukraina merupakan negara terbesar penghasil gandum. Kalau ramai-ramai mi instan katanya naik karena gandum, tapi sebenarnya akan ada panen raya di negara produsen, termasuk Ukraina ada jalur lain yang bisa diakses,” kata Emil.
“Yang pasti, ada negara lain di Barat yang mungkin bisa diakses untuk mengeluarkan gandum tersebut. Itu yang diharapkan. Jadi, ya kita berharap harga gandum baik dan produsen bisa menjaga stabilitas harga,” terangnya.
Emil mengimbau warga Jatim tidak panik atau sampai panic buying dengan memborong mi instan di pasar. “Jangan panic buying, apalagi anak kos. Panic buying ini tidak akan menguntungkan siapa pun, karena membuat spekulasi harga juga. Kami meyakini pemerintah pusat memiliki cara untuk bekerja sama dengan jejaring retailer dan produsen untuk memberikan informasi yang lebih dipercaya terkait stabilitas ini. Semoga tidak ada borong memborong. Kita punya harapan harga mi instan tidak akan naik ekstrem,” katanya. (mus/rek) Editor : Administrator