Kasubnit Tipidek Satreskrim Polrestabes Surabaya Ipda Raka Bima Grimaldi mengatakan, anjing sebelum dijagal dibawa masuk ke rumah Sio Petrus dalam kondisi dibungkus karung. Kaki dan mulut anjing diikat tali. Hal itu dilakukan supaya anjing tidak menggonggong.
Setelah ada pesanan, maka anjing akan digantung menggunakan tali kawat hingga meninggal. “Setelah mati, anjing dibakar dan dikuliti,” jelas Raka di Jalan Pesapen IV, Sumur Welut, Selasa (2/8).
Ipda Raka menuturkan, dalam proses pengulitan pejagal menggunakan pisau yang sudah disediakan. Setelah bersih, daging anjing baru dipotong dan dicuci dan kemudian dimasak. “Hasil pemeriksaan awal, dijualnya dalam bentuk rica-rica. Bukan dalam bentuk daging mentah,” tegasnya.
Sementara itu, pemilik rumah jagal anjing, Sio Petrus, mengaku daging anjing tidak dijual ke kalangan umum. Hanya dijual ke orang-orang tertentu atau penikmat daging anjing. “Kurang lebih hampir 10 tahun. Alasan jualan untuk mencukupi kebutuhan kedua orang tua saya,” ucapnya kepada wartawan.
Sio mengaku mendapatkan kiriman anjing dari warga yang sudah menjadi penyuplai tetap. Anjing tersebut dibeli dengan harga mulai dari Rp 200 ribu per ekor. “Ada yang mengirim ke sini. Saya beli, saya tidak mencuri. Per ekor Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu,” bebernya.
Setelah mendapatkan pesanan, anjing-anjing tersebut digantung supaya cepat mati dan tidak teriak-teriak (menggonggong). Setelah mati anjing mulai dibakar, dikuliti lalu dimasak. “Jual mateng (masak dalam bentuk rica-rica). Saya nggak pernah jual mentah. Per porsi Rp 25 ribu,” sebutnya.
Sio juga membantah tuduhan pecinta satwa bahwa dirinya menyiksa anjing terlebih dahulu sebelum dijagal dan dibuat rica-rica. “Saya tidak pernah mukul anjing. Prosesnya hanya saya gantung supaya cepat mati dan tidak teriak teriak. Mulutnya diikat biar gak teriak-teriak. Kan nggak enak sama tetangga kanan kiri,” urainya.
Sio menyatakan, ke depan akan menutup rumah jagalnya dan tidak akan berjualan kembali daging anjing. Ia akan menjajaki usaha baru agar tidak menimbulkan keresahan masyarakat.
PELATIHAN PADAT KARYA
Sementara itu, Lurah Sumur Welut Welut Sri Wahyoeningtiasih kemarin mendatangi rumah jagal anjing tersebut. Sri menjelaskan bahwa Sio Petrus, pemilik rumah jagal anjing, selama ini menggantungkan hidup dari berjualan daging anjing. Karena itu, pihaknya akan mengajak pemilik rumah jagal anjing untuk mengikuti berbagai macam pelatihan padat karya.
“Kalau sudah masuk kategori MBR (masyarakat berpenghasilan rendah), kami arahkan untuk mengikuti pelatihan padat karya yang sudah disediakan Pemerintah Kota Surabaya,” jelas Sri.
Tawaran Lurah Sumur Welut itu disambut baik Sio Petrus bersama ibunya. Ia pun memutuskan untuk menutup rumah jagal anjing yang selama ini menjadi penghasilan keluarga satu-satunya. “Untuk selanjutnya saya akan tutup, nggak akan jualan kembali alias pensiun. Meskipun ini satu-satunya mata pencaharian keluarga,” kata Sio Petrus. (rmt/rek) Editor : Administrator