Yang menarik pada cerita Soekarno dewasa, 19, ketika menikahi Oetari, 17, pada tahun 1920. Soekarno diperankan Hendra Agung Setyawan yang juga carik atau sekretaris Desa Gemekan, Kecamatan Suko, Kabupatan Mojokerto. Sementara Oetari diperankan oleh Rizma Pujatirta, cucu keponakan dari Roeslan Abdulgani, pahlawan nasional asli kampung Peneleh Surabaya.
Roeslan Abdoelgani semasa hidupnya dikenal mempunyai hubungan dekat dengan Soekarno. Tak heran bila di rumahnya terpampang foto-foto dirinya dengan Soekarno. Roeslan pun memiliki gelar Jenderal TNI Kehormatan Bintang Empat dan Bintang Mahaputera.
Karena dokudrama ini menceritakan riwayat hidup Soekarno sejak lahir di kampung Peneleh Surabaya, maka ada empat orang dari beragam usia yang memerankan sang Proklamator.
Soekarno bayi yang ketika itu bernama Koesno, diperankan seorang bayi berusia tiga bulan yang bernama Langit Tuai Tawa, putra pasangan pegiat sejarah, Abigail Nindy Anindya, dan Felix Gamaliel, yang sekaligus memerankan orang tua Soekarno, yakni Srimben dari Bali dan Soekeni dari Blitar.
Lalu Soekarno kecil yang ketika berganti nama dari Koesno ke Soekarno diperankan oleh Alang Dwipantara. Soekarno dewasa diperankan Hendra Agung Setyawan. Sedangkan Soekarno Presiden diperankan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi.
Rizma Pujatirta, 18, cucu keponakan Roeslan Abdulgani dipercaya memerankan Siti Oetari, istri pertama Soekarno. Rizma dilahirkan di rumah lahir Roeslan Abdulgani di Kampung Plampitan VIII, Surabaya.
Di sela syuting, Rizma menyampaikan rasa bangganya bisa memerankan sosok Oetari yang merupakan putri tokoh pergerakan HOS Tjokroaminoto dan istri pertama Bung Karno. Lewat film dokumenter ini, perempuan yang baru lulus dari SMAN 2 Surabaya ini mengaku bisa berseni peran sambil belajar sejarah.
“Bagi saya, ini sebuah pelajaran sejarah yang efektif,” kata Rizma, putri pasangan Djarot dan Rahma (keponakan Roeslan Abdoelgani).
Hal serupa juga disampaikan Hendra Agung. “Ada kesulitan dalam mengekspresikan gesture Soekarno, baik secara body language, mimik, maupun intonasi dalam berpidato,” aku dia.
Bagi Hendra dan Rizma, keterlibatan dalam produksi film dokudrama yang diproduksi secara kolaboratif antara TVRI, komunitas Begandring Soerabaia, dan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga ini memberi pengalaman baru. “Penjiwaan sosok Soekarno dalam film ini membuat saya menghayati apa yang menjadi tugas saya sebagai aparat pemerintah di tingkat desa,” kata Hendra.
Jejak Romansa
Jembatan Peneleh yang menghubungkan Alun-Alun Contong (barat Kalimas) dan Kampung Peneleh (timur Kalimas) adalah saksi bisu romansa pasangan Soekarno dan Oetari. Jembatan ini menghadap ke Kampung Peneleh VII (timur sungai), di mana ada rumah HOS Tjokroaminoto.
Jembatan Peneleh ini yang konon menjadi saksi sejarah lokasi adegan Soekarno ketika kali pertama menyatakan cinta dan akhirnya melamar Oetari, putri bapak kosnya di Surabaya. Selain Jembatan Peneleh, rumah HOS Tjokroaminoto juga menjadi latar kehidupan Soekarno muda. Karena di rumah petinggi Sarekat Islam itulah, dia tinggal kos bersama Semaun, Alimin, Moeso dan Kartosoewirjo yang kelak akan mewarnai perjalanan bangsa ini.
Untuk setting lokasi pernikahan Soekarno-Oetari, sutradara Andre Arisoetya mengambil di Lodji Besar. "Pengambilan gambar adegan ini disesuaikan sumber-sumber dari literasi dan foto pernikahan Soekarno dan Oetari," terang sutradara dari TVRI Jatim ini.
Penyesuaian setting, menurut Andre, harus dilakukan dengan tepat dan cermat sesuai literasi dan foto yang ada. Termasuk perangkat dan aksesoris yang digunakan. Salah satunya adalah kamera foto yang digunakan untuk mengabadikan momen pernikahan Soekarno dan Oetari.
Ada tiga jenis dan model kamera foto yang akhirnya didapatkan tim periset. Berdasarkan keputusan, salah satu kamera dengan jenis TLR dengan viewfinder lebar pada bagian atas akhirnya menjadi pilihan. “Kamera ini yang pas dan sesuai,” pungkas Kuncarsono Prasetyo, pegiat sejarah dari Begandring Soerabaia yang menjadi salah satu narasumber pembuatan film. (npw/beg/jay) Editor : Administrator