Namun demikian, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, pembubaran tersebut bukan karena tidak pro terhadap kreativitas anak muda. Namun demi kebaikan bersama serta kenyamanan pengguna jalan sehingga Pemkot Surabaya mengambil langkah tegas.
"Kemarin kita hentikan kegiatan Tunjungan Fashion Week di kawasan Jalan Tunjungan. Ini bukan soal tidak pro kreasi khas anak muda. Tapi ini soal kebaikan bersama," kata wali kota yang akrab disapa Cak Eri tersebut, Kamis (28/7).
Bahkan, ia mengaku akan memfasilitasi para anak muda untuk berkreasi melalui fashion show seperti halnya di Tunjungan Fashion Week. Pasalnya, program serupa dapat dilakukan di tempat dan momen lain. Misalnya, ketika agenda Car Free Day (CFD) atau dapat digelar di Balai Pemuda serta sejumlah ruang terbuka hijau di Kota Pahlawan. Ini bisa dilakukan sebagai unjuk kreasi fashion anak-anak muda Surabaya.
"Kan itu (fashion) juga bisa digelar di Balai Pemuda dan berbagai ruang terbuka hijau, dengan tetap jaga kebersihan dan tidak merusak taman. Atau di pedestrian dengan konsep terjadwal dan berizin, supaya bisa diatur agar tidak mengurangi kenyamanan masyarakat luas," ungkapnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, kreasi semacam ini tidak akan menimbulkan kemacetan. Sebab, gelaran tersebut memang dilakukan saat car free day dan di ruang-ruang publik non jalan raya.
"Soal konsep outfit-nya, silahkan berkreasi. Namun, harus tetap menginspirasi, ojok pating pecotot (tidak rapi) dan sing gak karu-karuan (tidak pantas), juga harus mencerminkan karakter khas arek Suroboyo," imbuhnya.
Mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya itu mengungkapkan, pada November tahun 2021, Pemkot Surabaya telah meluncurkan konsep di Jalan Tunjungan berupa Tunjungan Romansa. Konsep tersebut disediakan sebagai ruang kreasi seni, budaya, dan ekonomi kreatif di Kota Surabaya.
"Musik, fashion, kuliner, dan beragam kreasi melebur di Tunjungan Romansa. Sebagian dikonsep di area pedestrian, namun teratur dan tidak mengganggu pengguna jalan," ujarnya.
Sedangkan terkait fashion, kata dia, Pemkot Surabaya juga telah memfasilitasi dalam berbagai pergelarannya. Termasuk dengan menampilkan brand-brand lokal dan usaha mikro kecil secara rutin lewat Surabaya Fashion Week dan banyak lagi.
"Pelatihan desain fashion juga dilakukan agar tumbuh desainer-desainer fashion andal dari Surabaya. Bahkan kita sedang siapkan workshop penulisan fashion agar geliat fashion di Surabaya bisa tersebar luas dan menginspirasi lewat model komunikasi yang baik," ujar Cak Eri.
Sementara itu, Kepala Satpol PP Kota Surabaya Eddy Christijanto mengatakan, fashion week boleh dilakukan di Jalan Tunjungan. Namun jangan sampai menganggu arus lalu lintas.
"Fashion week boleh, tapi nggak boleh mengganggu kelancaran lalu lintas. Jadi jangan sampai menimbulkan kemacetan, terus menimbulkan antrean yang panjang. Ya itu yang kita manage. Itu yang tidak boleh," kata Eddy.
Tombol pada PCTL yang berfungsi untuk menghentikan kendaraan jika digunakan terus menerus maka akan berdampak kepada kemacetan. "Itu kan pakai lampu lalu lintas yang bukan otomatis (tombol pelican crossing lampu lalu lintas), jadi terlalu sering itu juga nggak boleh karena mengganggu lalu lintas," jelasnya.
Eddy menyebut kegiatan fashion week di Jalan Tunjungan disarankan dilakukan di trotoar atau pedestrian Jalan Tunjungan. "Disarankan di trotoar, kan selama ini kita manfaatkan pedestrian kan, untuk nongkrong, untuk konten itu di pedestrian," pungkasnya. (rmt/nur) Editor : Administrator