Kepala DPRKPP Surabaya Irvan Wahyudradjad mengatakan, Wisata Religi Ampel ke depannya dikembangkan sebagai destinasi wisata religi yang nyaman dan modern. Namun, tidak mengesampingkan keotentikan yang ada di dalamnya.
"Nantinya ada beberapa penunjang yang perlu ditambah di Ampel untuk menyatukan suasana religius dengan UMKM Surabaya," kata Irvan, Jumat (17/6).
Irvan mengaku ada beberapa permasalahan yang ada di kawasan Ampel. Di antaranya, minimnya fasilitas penunjang hingga belum tertatanya pedagang kaki lima (PKL). "PKL di sana (Ampel) tidak tertata dengan baik. Sentra wisata Kuliner (SWK) juga kurang optimal,” katanya.
Bukan itu saja. Area parkir komunal atau drop off tidak berfungsi dengan baik. Belum lagi keberadaan rumah potong hewan (RPH) yang kerap menimbulkan bau. “Masih banyak lainnya yang perlu diperbaiki," terang Irvan.
Sebelumnya, pemkot berencana akan mengalifungsikan bangunan RPH Pegirian ke kawasan Sememi. Rencananya RPH yang bersebelahan dengan parkir bus pariwisata itu akan dijadikan museum. Namun, sampai saat ini relokasi tersebut masih mengalami berbagai kendala.
Irvan menambahkan, pihaknya akan membuka kesempatan luas bagi masyarakat untuk menuangkan ide dalam bentuk desain arsitektur. "Jadi, kami akan buat sayembara untuk masyarakat agar berkontribusi sebagai penunjang mewujudkan ide revitalisasi Ampel. Selain itu, untuk kemajuan arsitektur Kota Surabaya," ungkapnya.
Irvan menjelaskan ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan oleh peserta. Di antaranya, adanya bangunan cagar budaya di lahan wisata Ampel. Nah, dalam pengembangan desain kawasan ini peserta harus memperhatikan keselarasan dengan bangunan yang ada di sekitarnya.
Sayembara desain wisata Ampel ini terbuka untuk mahasiswa arsitek, arsitek, maupun arsitek lanskap dari seluruh Indonesia. "Pendaftarannya melalui www.krearture.com mulai 16 Juni sampai 1 Agustus 2022, sedangkan pengumumannya pada 17 Agustus 2022," pungkas Irvan. (rmt/rek) Editor : Lambertus Hurek