Sekretaris PWNU Jatim yang kini menjabat sebagai Wakil Sekjen PBNU itu dilantik oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas di Jakarta, Senin (6/6). “Betul, beliau sudah resmi dilantik menjadi rektor UINSA Surabaya,” kata Menag Yaqut Cholil Qoumas kepada Jawapos.com.
Sebelumnya, nama Prof Muzakki diajukan ke Kementerian Agama sebagai calon rektor UINSA bersama dua kandidat lainnya. Mereka adalah Prof Titik Triwulan Tutik dan Prof Zumrotul Mukaffa.
Namun, Menteri Agama memilih Akhmad Muzakki karena dinilai lebih cakap dan memenuhi syarat. Akhmad Muzakki pun dilantik sebagai rektor UINSA berdasar Surat Keputusan Menteri Agama RI nomor 021232/B.II/3/2022 tertanggal 6 Juni 2022.
Selain cakap di bidang akademis, Akhmad Muzakki juga dikenal sepak terjangnya di dunia organisasi, khususnya kelembagaan Nahdlatul Ulama (NU).
Antara lain, ia pernah menjabat sebagai ketuaLembaga Pendidikan (LP) Ma'arif PWNU Jatim, sekretaris PWNU Jatim, dan wakil sekjen PBNU. Di luar kelembagaan NU, ia juga pernah menjabat ketua Dewan Pendidikan Jatim dan terakhir menjadi sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim.
Gelar guru besar diterima Akhmad Muzakki pada 2015 lalu. Mengutip NU Online, ada sejumlah cerita pilu yang mengiringi perjalanan guru besar termuda (37 tahun) di FISIP UINSA tersebut. Dari mulai berkas yang sempat hilang, saran dari banyak kolega bahwa menjadi guru besar adalah takdir dan jangan terburu nafsu, hingga sejumlah godaan lain.
Sekelumit kesulitan tersebut disampaikan Muzakki ketika menyampaikan orasi di auditorium UINSA. “Sulit dan ketatnya aturan menjadi guru besar pasti dirasakan berlipat oleh dosen-dosen yang secara kelembagaan berada di bawah Kementerian Agama atau Kemenag,” kata ayah dua anak kelahiran Sidoarjo, 9 Februari 1974 ini, kala itu.
Kemudian, secara rinci, suami dari Erna Mawati tersebut menceritakan bahwa untuk meraih gelar professor, para dosen yang berada di Kemendikbud hanya mengalami penilaian jenjang universitas dan dikti.
‘’Sedangkan yang berasal dari Kemenag harus melewati sekian macam dan tingkatan check point penilaian,” terang peraih gelar Graduate Diploma in Southeast Asian Studies dari Fakultas Asian Studies The Australian National University (ANU) Canberra ini.
Namun semua itu akhirnya berhasil dilewatinya. Pada awal Januari 2015, Akhmad Muzakki layak bergelar profesor dengan SK dari Menristekdikti Nomor 3755/A4.3/KP/2015 yang diteken menteri Mohamad Nasir. (jpc/jay)
Editor : Administrator