“Aku harus ke sini. Kalau bukan karena Jawa Pos dan Pak Dahlan, aku gak iso koyo aku saiki,“ katanya dengan logat Suroboyoan yang medok.
Dengan didampingi para kolega timnya di MarkPlus Inc., Hermawan tampak menikmati kunjungannya sore itu. Dengan senyum semringah, ia menyelusuri beberapa ruangan sambil mengingat-ingat sesuatu.
Ketika sampai di gambar grafis Dahlan Iskan yang dipajang di dekat pintu masuk ruang redaksi, ia pun langsung beraksi. Dengan smartphone di tangan kanannya, ia selfie dengan background potret diri Dahlan Iskan. Cekrek..cekrek, ia pun tersenyum puas. “(Foto) ini saya kirim ke Dahlan Iskan,” tukasnya.
Arek asli Kapasari Surabaya itu memang tengah berbahagia. Pasalnya, ia sebentar lagi akan merayakan ulang tahunnya yang ke-75 pada 18 November mendatang. Untuk menandai moment bersejarah itu, Hermawan pun membuat film dokumenter yang diberinya judul GURU : Learn, Think, and Share.
Ini bukan film biasa. Ini adalah film tentang perjalanan hidup dan karirnya yang dimulai dari Kota Surabaya. Yah, Hermawan mengaku Jawa Pos telah membesarkan nama dan reputasinya hingga kini dikenal sebagai salah satu pakar ilmu marketing dunia.
Hermawan Kartajaya masuk dalam 50 guru marketing dunia (50 Gurus Who Have Shaped The Future of Marketing) oleh lembaga The Chartered Institute of Marketing, Inggris. Kepakarannya disejajarkan dengan Philip Kotler, David Aaker, Theodore Levitt dan Kenichi Ohmae.
Film besutan PH asal Yogya tersebut rencana akan dirilis bertepatan dengan gala dinner ulang tahunnya ke-75 di salah satu hotel berbintang di Surabaya. Di saat itu pula, Hermawan akan melakukan kegiatan kemanusiaan yakni menyerahkan cadaver dirinya jika meninggal nanti untuk keperluan penelitian di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair). “Saya akan menyerahkan lewat Gubernur Khofifah,” ujarnya.
Film documenter ini mengambil lokasi syuting di beberapa tempat. Mayoritas di Surabaya. Antara lain di eks kantor Jawa Pos Jalan Kembang Jepun, kampung kelahiran Hermawan di Kapasari, tempat SD dan SMP-nya di sekolah Sasana Bhakti di Jalan Jagalan, SMA St Louis dan kampus Ubaya tempatnya pernah mengajar, dan di ITS dimana ia pernah kuliah di Teknik Elektro dan menerima gelar Doctor Honoris Causa dari kampus teknik tersebut.
Hermawan adalah satu dari dua orang yang pernah diberi gelar kehormatan tersebut. Selain dirinya, mantan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini juga pernah menerimanya. Namun berbeda dengan Risma yang memang alumnus Teknik Arsitektur ITS, Hermawan mengaku dirinya justru tak pernah lulus dari ITS. Namun berkat kepakarannya di bidang marketing strategy yang ikut mengangkat nama ITS, ia dianugerahi gelar kehormatan oleh rector, Prof Priyo Suprobo.
Namun demikian, ia mengaku perkenalannya dengan Dahlan Iskan dan Jawa Pos yang sangat menginspirasi perjalanan karirnya. Hermawan bercerita bahwa dirinya lah yang membawa Dahlan Iskan mengajar di kampus Ubaya. Sebaliknya, Dahlan Iskan yang memberinya kesempatan untuk menulis secara rutin di harian Jawa Pos sehingga pemikiran dan analisisnya tentang dunia bisnis dan marketing dikenal banyak orang.
Saat itu, Hermawan bersama 5 pakar lain dari berbagai bidang diundang Dahlan Iskan untuk menjadi kolumnis tetap di Jawa Pos. Di antaranya ada Prof Tjuk Sukiadi dari Unair dan Prof Johan Silas dari ITS. “Saya kebagian nulis tiap hari Rabu,” ungkapnya.
Dari tulisan rutin selama 10 tahun itu, nama Hermawan pun dikenal publik. Pemikiran dan analisisnya tentang marketing strategy banyak menjadi acuan dan referensi baik oleh pemerintah maupun instansi bisnis swasta dan BUMN. Kemudian, ia mendirikan perusahaan konsultan marketing MarkPlus, Inc pada tahun 1990.
Dari situ, ia secara konsisten mengembangkan perusahaan dan individu di bidang konsultasi, riset pemasaran, pendidikan, dan komunitas media. MarkPlus bahkan telah berkembang menjadi perusahaan konsultan pemasaran di Asia Tenggara yang menjadi penasihat strategi dan pemasaran yang kompeten untuk bisnis dan institusi di kawasan ini. (jay) Editor : Administrator