Fenomena ini cukup aneh. Hampir semua wilayah masih hujan, meski saat ini Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut sudah memasuki musim kemarau.
Kepala Forcester BMKG Tanjung Perak, Muhammad Arif Wiyono mengatakan, munculnya kabut pada pagi hari di Surabaya dikarenakan uap air yang tidak bisa naik ke atas sehingga udara menjadi stuck (terjebak) dan menimbulkan kabut.
Apalagi dinamika atmosfer saat ini terjadi bibit siklon tropis di Samudera Hindia. Hal inilah yang memicu adanya konvergensi atau pertumbuhan awan yang efektif di kepulauan Jawa, termasuk juga di Surabaya.
"Udara yang akan naik ke atas stuck sehingga membentuk kabut. Apalagi hujan sempat mengguyur Surabaya pada pagi hari. Ditambah dengan suhu udara yang dingin," kata Arif, kemarin (26/5).
Kabut tersebut diprediksi akan terjadi dalam beberapa hari ke depan, terutama saat hujan di pagi hari. Hal ini juga berpengaruh pada suhu udara di Surabaya yang mencapai 25 – 26 derajat celsius.
"Beberapa hari ke depan juga hujan. Yang bisa terjadi pada pagi, siang, sore maupun malam. Karena bibit siklon tropis tersebut. Namun hal ini juga bergantung pada labilitas atmosfer udaranya," jelasnya.
Selain hujan dengan intensitas sedang hingga ringan, Arif juga menyebut kecepatan angin juga cukup tinggi. Arif juga mengatakan, kondisi atmosfer perlahan-lahan kembali normal. Sehingga musim kemarau di Surabaya juga akan berlangsung secara normal, tidak mengalami kemarau berkepanjangan.
Kemarau di Surabaya diprediksi hingga bulan November. Meski nantinya juga akan terkendala dengan munculnya gangguan atmosfer lainnya.
"Untuk kemarau tahun ini tidak begitu panjang. November kemungkinan sudah menjadi puncaknya. Sehingga bulan Desember sudah memasuki musim penghujan kembali," pungkasnya. (rmt/nur) Editor : Administrator