Saat ini masih ada dua korban yang menjalani perawatan intensif di Graha Amerta RSUD dr Soetomo. Dua korban tersebut kakak beradik. Soetiadji menyatakan pihaknya akan terus memperbaiki segala kekurangan, terutama yang berkaitan dengan keamanan dan kenyamanan pengunjung di wahana air Kenpark.
Menurut dia, pihak perusahaan pembuat perosotan asal Kanada pun kaget atas insiden tersebut. Sebab, perosotan itu sudah banyak digunakan di berbagai negara. "Kita koordinasikan dengan perusahan yang ada di Kanada bagaimana selanjutnya. Mereka sangat prihatin. Kok bisa sampai pecah," tuturnya.
Selain itu, pihak asuransi rencananya akan memberikan Rp 300 juta kepada para korban. Namun, asuransi keselamatan pengunjung tersebut tidak mencukupi. Sehingga pihak Kenpark akan meng-cover semua kebutuhan korban. Soetiadji juga akan memberikan biaya pendidikan kepada anak-anak yang jadi korban.
Soetiadji mengaku sudah mencantumkan asuransi ke dalam tiket masuk meski tidak tertera dengan jelas. "Kalau dulu dengan kita cantumkan dengan cetak, tapi sekarang dengan digital atau barcode," ungkapnya. Hingga kini wahana water park masih ditutup sementara sembari menunggu hasil laboratorium forensik (labfor).
Ketua Komisi D DPRD Surabaya Khusnul Khotimah memberikan catatan kepada pemilik Kenpark agar memperhatikan semua sarana dan prasarana yang ada di area wisata tersebut. “Ketika ada kejadian, asuransi tidak dimunculkan di karcis itu. Termasuk asuransi dan pajak. Kita baru tahu itu," kata Khusnul.
Pihak dewan juga berharap agar Kenpark memberikan santunan penuh terhadap para korban. Sebab, korban yang saat ini menjalani pengobatan membutuhkan biaya perjalanan dan sebagainya. "Bayangkan, mereka harus riwa-riwi untuk berobat. Jadi, ini juga harus di-cover sama Kenpark," katanya.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya Tomi Ardiyanto menambahkan, 16 korban sudah menjalani pendampingan trauma healing.
Pihaknya juga masih melakukan komunikasi dengan RSUD dr Soetomo agar bisa masuk ke dalam ruang perawatan. "Sebanyak 14 korban sudah berada di rumah masing-masing," ungkap Tomi. (rmt/rek) Editor : Lambertus Hurek