Anggaran untuk bantuan tersebut dari APBD 2022 senilai Rp 47 miliar. Dari anggaran ini, masing-masing siswa akan mendapatkan uang tunai sebesar Rp 200 ribu. Uang ini kemudian dapat dimanfaatkan siswa untuk keperluan pendidikan seperti membayar uang SPP, maupun membeli perlengkapan sekolah.
”Kami masih mematangkan lagi terkait insturmen hukumnya dan mem-fix-kan verifikasi data. Mudah-mudah bisa secepatnya sembari juga nunggu perwalinya,” kata Kepala DKKOP Kota Surabaya Wiwiek Widayati, kemarin.
Wiwiek menjelaskan, jumlah penerima beasiswa tersebut berjumlah 13.515 siswa. Penerima beasiswa didapat dari data masing-masing sekolah yang terdapat siswa dari keluarga masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) maupun yang berprestasi. Namun tidak hanya mengandalkan data saja, ada klasifikasi dari tim seleksi.
“Maka dari itu ada tim seleksi untuk melakukan klasifikasi atau kriteria dari si penerima tersebut. Tujuannya agar bantuan ini tepat sasaran,” jelas mantan Kepala Dinas Perdagangan tersebut.
Pada Januari lalu sempat digelar rapat antara DKKOP dan Dinas Sosial (Dinsos). Dari pertemuan tersebut memang sempat terkendala validasi data, karena banyak data MBR yang nyantol saat memasuki pandemi.
Untuk itu, sinkronisasi data masih perlu dilakukan untuk memastikan data penerima bantuan pendidikan ini memang tepat sasaran. Targetnya, validasi data ini akan rampung pada akhir Januari, dan anggarannya bisa langsung didistribusikan kepada para siswa.
Sementara itu anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya Tjutjuk Supariono meminta segera pencairan bantuan pendidikan agar meringankan beban siswa dan keluarganya pada saat kondisi ekonomi yang sedang sulit.
“Saya menyayangkan adanya keterlambatan pencairan beasiswa ini. Sebab, saat kami turun ke lapangan memang masih banyak warga yang mengeluhkan beratnya biaya pendidikan,” ujar Tjutjuk.
Cairnya beasiswa itu diharapkan Tjutjuk untuk menghindari bertambahnya angka anak putus sekolah. Karena Anggaran ini sudah digedog sejak bulan November 2021. “Saya minta agar beasiswa bagi pelajar SMA ini dapat segera dicairkan, karena sudah terlambat dua bulan dari target awal,” pungkasnya. (rmt/nur) Editor : Administrator