Menurut dia, penurunan harga daging sapi itu lantaran pemerintah memberikan izin impor daging sapi dan kerbau ke Indonesia. "Saya sangat mengapresiasi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang menyebut stok sapi di Jawa Timur surplus. Tujuannya agar masyarakat tidak panik. Apalagi saat ini menjelang Ramadan dan Idul Fitri," katanya, Selasa (8/3).
Muthowif mengatakan, data stok sapi di Jatim yang disebut surplus itu benar. Namun, tidak semuanya layak potong. "Berdasarkan temuan saya di lapangan, yang dipotong di RPH itu yang penting sapi. Jadi, bisa sapi betina atau sapi yang usianya belum layak dipotong," jelasnya.
Selain itu, penyebab harga murah ini adalah adanya daging sapi yang dioplos antara daging sapi lokal dengan daging sapi impor. "Memang Ibu Gubernur melarang daging sapi impor masuk ke Jatim. Tapi realitanya masih ditemukan adanya daging impor di pasaran," katanya.
Sementara itu, pengurus Paguyuban Pedagang Daging (PPD) Jatim Anton Santoso mengatakan, stok daging sapi lokal di Jatim belum memadai. Menurut dia, solusinya adalah dengan melakukan kombinasi antara daging sapi lokal dan impor.
"Daging sapi impor itu lebih murah. Yang kualitas bagus hanya Rp 85 ribu per kg. Sementara daging sapi lokal mencapai Rp 110 ribu. Nah, kalau tidak di-mix, apalagi daging impor tidak boleh masuk ke Jatim, bisa dipastikan stoknya langka dan harganya akan terus melonjak," jelasnya.
Anton mengatakan, sejauh ini yang boleh menggunakan daging impor hanya hotel, restoran, katering (horeka). Bukan pedagang daging di pasar. "Kami berharap ada solusi dengan duduk bersama. Karena daging sapi impor ini sebenarnya sangat higienis dibandingkan daging sapi lokal. Sebab, pemotongannya dengan cara stunning," katanya. (mus/rek) Editor : Lambertus Hurek