Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya berencana untuk melelang keempat kalinya botol-botol plastik tersebut. Seperti di rumah kompos Rungkut, dari pantauan di lapangan tampak sak-sak botol menggunung.
Koordinator rumah kompos Rungkut, Ghofar mengatakan, setiap harinya ada puluhan hingga ratusan botol yang dikirim dari masing-masing pos penukaran botol SB. Di rumah kompos tersebut menjadi gudang penyimpanan botol plastik dari para penumpang Suroboyo Bus. “Hampir setiap hari botol plastik bus dikirim di sini (rumah kompos Rungkut),” ujar Ghofar.
Ia menjelaskan, selama dua hari ini total ada 344,6 kilogram botol plastik yang sudah melalui proses timbang. Setelah dilakukan penimbangan belasan orang memilah-milah botol tersebut. “Paling banyak botolnya dari penumpang Suroboyo Bus di terminal Purabaya. Sehari bisa 20 sak untuk ukuran sak tanggung dan 10 sak untuk ukuran sak besar,” ujarnya.
Setelah dikumpulkan di rumah kompos Rungkut, nantinya botol-botol itu dibawa ke rumah kompos Osowilangun untuk dilakukan pengepresan. “Ya, karena alatnya ada di sana (Osowilangun),” terangnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya Agus Hebi Djuniantoro menerangkan, botol bekas yang sudah melalui proses pilah di rumah kompos akan dilakukan pelelangan. “Benar, nanti dikumpulkan jadi satu dan pelanggan melalui badan aset,” katanya.
Dia menambahkan, botol bekas yang masuk pelelangan tak hanya dari rumah kompos Rungkut Kidul, melainkan rumah kompos di seluruh Surabaya. Sebelumnya lelang botol plastik itu dilakukan oleh Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) sebelum beralih menjadi DLH sebanyak tiga kali. Namun kini DLH akan kembali melakukan lelang untuk keempat kalinya.
Sementara itu, Kasi Pemanfaatan Sampah DLH Surabaya Khoirun Nisa mengatakan, pihaknya telah melakukan pelelangan botol bekas sebanyak tiga kali. Hasil pelelangan nantinya, kata dia, masuk dalam kas daerah.
“Sudah tiga kali sebelumnya dilakukan lelang. Kurang lebih nilainya mencapai Rp 300 juta,” ujar Nisa. Dia menambahkan, salah satu yang masuk proses lelang itu adalah botol bekas dari Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) 3R (Reduce, Reuse, Recycle) Osowilangun sebanyak 25 ton.
Dia menjelaskan, botol bekas yang masuk usulan pelelangan itu merupakan botol bekas yang sudah melalui beberapa proses. Di antaranya, proses pemilahan jenis botol, serta jenis warna botol, bahkan pemilahan tutup botol.
Selanjutnya, botol bekas yang sudah terkumpul bakal di-press berbentuk kubus. “Yang bentuk kubus itu yang siap dilelang. Kalau di Rungkut hanya proses pemilahan saja,” jelasnya.
Soal jumlah botol bekas dalam pemilahan di rumah kompos Rungkut Kidul hingga kini mencapai 30 ton. Nisa mengaku tidak ada batasan waktu untuk mengajukan usul lelang. Jika barang yang akan dilelang sesuai syarat, maka Pemkot langsung mengusulkan ke Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN).
Sebab, proses penting yang harus dilalui itu tentang penilaian. Jika sesuai dengan ketentuan maka dapat dilanjut ke proses selanjutnya. “Kalau gagal atau tidak sesuai ya bakal diulang lagi. Jadi nggak setahun langsung rampung,” pungkasnya. (rmt/nur) Editor : Administrator