Menurut Ki Ompong Soedharsono, seorang seniman Jawa Timur, jula-juli merupakan sebuah syair yang ditembangkan. Biasanya sering ditembangkan dalam pertunjukan ludruk. Syair ini menggambarkan keadaan masyarakat yang terjadi saat itu juga.
"Banyak macamnya, ada yang berbentuk sebuah sindiran, berupa nasehat, kritikan hingga kehidupan masyarakat. Baik politik atau pendidikannya. Jula-juli ini juga bisa disebut kidung," katanya, Kamis (3/3).
Menurut dalang Wayang Blang Bleng itu, jula-juli sejatinya tak hanya dikenal di Surabaya saja, namun juga di Jawa Timur. Kidung yang juga berbentuk pantun jenaka tersebut memang lebih banyak dikenal di Surabaya. Sebab ludruk banyak ditampilkan di Surabaya.
Kidung jula-juli memiliki banyak fungsi. Selain sebagai nasihat, jula-juli berfungsi sebagai kontrol sosial. Bentuknya yang berupa pantun jenaka membuat sindiran atau kritikan di dalamnya dapat diterima masyarakat, sebagai pengingat tentang kondisi sosial yang ada.
"Ya kan biasanya memakai tokoh-tokoh sekitar juga. Jadi pesan di dalamnya itu juga tak melangit, tapi membumi. Artinya ya pesannya itu sangat merakyat. Karena yang dibahas kadang keadaan sosial sekitar masyarakat," jelasnya. (far/nur) Editor : Lambertus Hurek