Ada beberapa pilihan sampah yang bisa jadi rupiah. Di antaranya jenis kertas, plastik, besi, logam, kaca atau beling hingga karung. Kertas seperti kardus yang bagus misalnya, dihargai Rp 2.500 rupiah per kilogramnya. Sementara untuk koran, harganya Rp 3.500 rupiah per kilogram.
"Kalau kategori plastik, seperti botol pet bening dan bersih, harganya Rp 3.500 rupiah setiap satu kilonya. Kalau jenis logam seperti tembaga, bisa Rp 75 ribu per kilo," ujar Humas BSIS Nurul Chasanah, Rabu (9/2).
Menurut Nurul, harga tersebut untuk harga beli sampah pilah bagi nasabah individu. Setiap harinya, jumlah sampah yang diterima BSIS tak sama. Namun rata-rata setiap bulannya bisa menerima 25 sampai 32 ton sampah. Baik yang berasal dari individu maupun yang binaan BSIS.
Nurul mengatakan, jika sampah yang paling banyak diterima adalah jenis kertas, disusul jenis plastik. Di lokasi, ada sejumlah pekerja yang ikut memilah sampah tersebut. Mereka nampak melepas plastik yang nempel di masing-masing plastik seperti botol.
"Ada yang tingkat RT (bank sampah unit) ada juga yang dipilah mandiri di rumah dan langsung dibawa ke sini. Kalau untuk tingkat RT itu ada sistem edukasi dan pendampingan sejak mereka awal jalan," imbuh Nurul.
Mekanisme penerimaan sampahnya pun cukup sederhana. Pertama sampah dipilah dari warga, kemudian disetorkan ke BSIS. Jika tak mau datang, bisa dijemput petugas. Setelah itu, sampah ditimbang, lalu dimasukkan ke tabungan atau dibayar tunai.
Sampah yang masuk dipilah lagi untuk persiapan ke pabrik daur ulang. Sampah yang telah dipilah tersebut akan dikirim ke pabrik jika sudah memenuhi kuantitas minimal. Sehingga bergantung pada hasil packing. Rata-rata dalam sepekan bisa dua hingga tiga kali.
"Kami di bawah Yayasan Bina Bhakti Lingkungan memang fokusnya untuk edukasi ke mereka dan mendampingi agar sampah bisa menjadi salah satu pemasukan ekonomi (circular economy)," jelasnya. (far/nur) Editor : Lambertus Hurek