Humas Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) KBS Agus Supangat mengatakan, satwa langka asal Sulawesi itu berusia 19 tahun. Sehari sebelum mati, anoa bernama Latin Bubalus depressicornis itu tidak punya nafsu makan dan tidak dapat berdiri. Pihaknya segera melaporkan ke BBKSDA Jatim.
"Sebelum mati, hari Sabtu kondisi anoa sedang sakit. Kami langsung kontak tim medis dengan pendampingan BBKSDA Jatim. Lalu, pemberian infus intra vena, vitamin, mineral, obat antikembung, antibiotika dan pemberian pakan alami dengan cara disuapi. Juga dilakukan pengawasan selama 24 jam," kata Agus di Surabaya, Selasa (18/1).
Namun, nahas satwa itu akhirnya tidak tertolong pada Minggu (16/1) sore pukul 17.30. Agus menyebut, berdasar diagnosis, kematian anoa disebabkan faktor usia yang sudah tua. Sehingga fungsi organ tubuh satwa mengalami penurunan. Beberapa literatur menyebutkan bahwa rata-rata usia hidup satwa Anoa berkisar 22-24 tahun.
Untuk memperkuat diagnosis penyebab kematian Bobby dilakukan pengiriman sampel bagian organ tubuh trakea, paru-paru, jantung, limfa, hati, ginjal, lambung, usus halus, dan usus besar ke laboratorium. Sedangkan organ lainnya dibakar di Krematorium KBS.
Bobby merupakan anoa jantan berumur 19 tahun yang tiba di KBS tahun 2006. Kini koleksi satwa anoa di KBS tersisa lima ekor, yakni satu jantan dan empat betina. Selain kematian satwa anoa, gajah Manis berjenis kelamin betina, 50 tahun, juga sakit. Agus menyebut gajah bernama Manis itu tak punya nafsu makan.
Selain itu, terdapat bintil merah kecil, rongga mulut pucat, suhu tubuh 35,9 derajat Celcius, lesu, dan hanya minum sedikit. "Gajah Manis kini dalam perawatan medis," ungkapnya.
Tahun 2021 lalu orangutan dan gajah Dumbo juga mati. Peristiwa itu sempat mendapat sorotan berbagai kalangan. Manajemen KBS dipanggil ke DPRD Surabaya. Karena itu, menurut Agus, pihaknya akan terus melakukan perbaikan kandang satwa dan perhatian khusus kepada semua satwa penghuni KBS. Kini KBS memiliki 2.159 ekor satwa dari 215 jenis. (rmt/rek) Editor : Lambertus Hurek