Jembatan itu mempunyai struktur utama pada bentang di atas sungai menggunakan beton precast berupa voided slab yang terbagi dalam tiga bentang, yakni 24 meter, 18 meter dan 16 meter.
Sedangkan pada bentang di atas tanah, menggunakan full slab. Pengerjaan jembatan yang dilakukan tahun 2020 itu rampung selama satu tahun dan diresmikan 1 Mei 2021.
Kini jembatan bisa dilalui dengan menghubungkan (bypass) ruas Frontage Wonokromo dengan Jalan Gunung Sari.
Bahkan, warga kota Surabaya juga bisa menikmati pemandangan kali Jagir saat sore di atas rooftop jembatan.
Apalagi saat malam hari tiba, air mancur menari pun menghiasi area jembatan, menambah sparkling wajah kota Surabaya. Namun, lampu itu jarang dinyalakan. Jembatan itu ramai dikunjungi sebagai wisata gratis.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menuturkan, bangunan jembatan dilengkapi bangunan pelengkap, seperti pilon jembatan dengan tinggi sekitar 20 meter dengan tangga untuk naik ke mezzanine.
Lalu, dilengkapi pula dengan big tree lamp dengan tinggi 6 meter yang dapat menyala berwarna-warni lengkap dengan running text. “Dilengkapi juga dengan dancing fountain atau air mancur menari yang bergerak seirama dengan lagu yang diputar. Sedangkan railling jembatan menggunakan kaca tempered yang ditempeli stiker dan lampu hias,” katanya.
Dengan terkoneksinya Jembatan Sawunggaling dan Terminal Intermoda Joyoboyo (TIJ), Eri ingin seluruh akses parkir yang ada di area KBS bisa diarahkan ke TIJ. Sehingga area KBS bisa lebih nyaman digunakan warga Surabaya dan wisatawan yang datang.
“Semoga dengan Jembatan Sawunggaling dan TIJ ini maka bisa bermanfaat buat warga Surabaya dan bisa meningkatkan UMKM-nya Kota Surabaya,” harapnya.
Jembatan Sawunggaling diresmikan bersama Menteri Sosial Tri Rismaharini yang merupakan inisiator pembuatan jembatan saat masih menjabat wali kota Surabaya. (rmt/nur) Editor : Administrator