Koordinator Wilayah Bike to Work Surabaya H.A Restia mengatakan, tren gowes di Surabaya meningkat sejak pandemi Covid-19. Hal itu disebabkan karena banyak masyarakat yang work from home (WFH) atau kerja dari rumah. Mereka akhirnya berolahraga dengan cara bersepeda.
"Sampai saat ini tetap ramai yang gowes. Namun tidak seheboh dulu," ujar Restia kepada Radar Surabaya.
Dia melanjutkan, terkait upaya Pemkot Surabaya kembali menambah lajur sepeda sangat disambut antusias dan positif. Pihaknya berharap Kota Surabaya menjadi kota yang ramah pesepeda. "Kita berharap semua jalan di Surabaya diberi lajur sepeda. Pengennya Surabaya itu kota ramah pesepeda," ungkapnya.
Menurutnya, dengan begitu orang akan kembali memanfaatkan sepeda saat beraktivitas. Selain itu kemacetan di kota juga bisa dikurangi. "Polusi tentu juga bisa berkurang," imbuhnya.
Pakar Transportasi ITS Machsus mengatakan, penggunaan sepeda di Kota Surabaya bagian dari pengembangan transportasi yang ramah lingkungan. Sehingga saat ini peluang adanya budaya bersepada terus berlanjut.
Menurut dia, saat ini sekitar 20 hingga 30 persen ada penggowes baru yang muncul di tengah pandemi ini. "Sejatinya karakteristik jalan di Surabaya cukup bagus. Jadi penggunaan sepeda bagian dari pengembangan transportasi yang ramah lingkungan sehingga kendaraan bermotor dapat diminimalisir, salah satunya dengan sepeda atau jalan kaki," katanya.
Machsus menjelaskan, ada tiga aspek yang harus diperhatikan untuk mengambil kebijakan dalam budaya bersepeda. Pertama aspek keselamatan, dampak kinerja jalan, dan pengaturan jam operasional bersepada. (rus/nur) Editor : Lambertus Hurek