Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Limbah Rumah Tangga Biang Pencemaran Sungai di Surabaya

Administrator • Selasa, 11 Januari 2022 | 19:48 WIB
CEMARI LINGKUNGAN: Limbah domestik atau rumah tangga merupakan yang mendominasi pencemaran sungai di kota Surabaya. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)
CEMARI LINGKUNGAN: Limbah domestik atau rumah tangga merupakan yang mendominasi pencemaran sungai di kota Surabaya. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Kondisi sungai di Kota Pahlawan memang fluktuatif. Pasalnya, sungai di Surabaya lokasinya paling hilir sebelum ke muara laut.


"Fungsi sungai (air permukaan) sebagai bahan baku air minum PDAM, sebagai sarana rekreasi, estetika kota, juga pengendalian genangan. Tiap tahun selama 11 bulan dilakukan upaya pengujian air badan air (ABA) di 20 titik per bulannya," ujar Kasie Pemantauan dan Pengendalian Kualitas Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya Eny Willia kepada Radar Surabaya, kemarin.


Eny menuturkan, limbah rumah tangga (sektor domestik) menjadi penyebab utama pencemaran sungai. Dari hasil pengujian  yang disebut Indeks Kualitas Air (IKA) tahun 2020 adalah 56,05 poin.


"Data Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) perusahaan ada 583 berdasarkan data Pengajuan perizinan IPAL di DLH dari tahun 2017. Sedangkan yang masih mengajukan perizinan sejumlah 119 perusahaan. Kemudian data IPAL domestik  MCK 40, MCK + komunal  24 dan komunal 122," terangnya.


Pemkot Surabaya sudah melakukan beberapa upaya untuk mencegah dan mengantisipasi pencemaran sungai. Seperti mendorong masyarakat agar membangun IPAL komunal.


Tak hanya terhadap rumah tangga, pencegahan juga dilakukan DLH Surabaya terkait antisipasi limbah dari perusahaan atau sektor usaha. Di samping itu, upaya pengendalian juga dilakukan pemkot dengan membangun IPAL di sentra usaha.


Diketahui, sejumlah aktivis menyebut kondisi sungai di Surabaya mengandung fosfat dan klorin akibat pencemaran detergen. Pencemaran limbah kimiawi ini dinilai bisa mematikan ekosistem sungai dan memicu kanker. Kandungan fosfat dan klorin itu diketahui saat sejumlah aktivis ini melakukan penelitian mikroplastik dan uji kualitas air pada sungai Surabaya. (mus/nur)

Editor : Administrator