Kadinkes Kota Surabaya Nanik Sukristina mengatakan, saat ini seluruh rumah sakit di Surabaya sudah siap menampung pasien penderita Omicron. Apalagi serangan Omicron tiga kali lipat lebih cepat dari varian Delta.
"Insya Allah, kita upayakan agar kapasitas rumah sakit yang ada bisa mencukupi," kata Nanik, Rabu (5/1).
Bukan itu saja. Apabila terjadi lonjakan kasus Omicron, pihaknya akan menggunakan rumah sakit lapangan atau darurat seperti rumah sakit lapangan tembak (RSLT). "Kita akan lihat situasinya ke depan. Insya Allah, bisa kita atasi dengan rumah sakit. Jangan sampai naik lagi (kasus) seperti sebelumnya," tuturnya.
Pihak dinkes juga terus melakukan upaya-upaya dengan bekerja sama dengan Satgas Covid-19 untuk meningkatkan kembali kampung Wani Jogi Suroboyo dan menegakkan disiplin prokes secara masif. Swab hunter juga akan digalakkan kembali.
Nanik juga meminta pihak kelurahan dan kecamatan untuk bersiaga dan lebih waspada. Seperti blocking area bagi yang terpapar Omicron. "Kita awasi ketat dan batasi agar tidak ke mana-mana," paparnya.
Terkait warga Surabaya yang terpapar Omicron, Nanik menyebut saat ini masih dirawat di salah satu rumah sakit di Surabaya. "Yang terpapar Omicron satu orang saja yang dari berlibur ke Bali itu. Sementara masih dirawat di rumah sakit," ungkapnya.
Menurut dia, penderita Omicron yang baru kontak erat dilakukan isolasi mandiri. Sedangkan penderita atau yang positif Omicron dirawat di rumah sakit.
Sementara itu, untuk mengantisipasi masuknya varian Omicron dari wisatawan asing dan pekerja migran Indonesia (PMI), pemkot akan melakukan karantina atau isolasi. Baik sebelum masuk ke Surabaya maupun saat hendak pulang ke daerahnya masing-masing. "Kami sudah koordinasi dengan pihak provinsi dan KKP untuk isolasi PMI," ujarnya.
Nanik juga mengimbau seluruh warga Surabaya untuk tenang dan tetap menjaga protokol kesehatan (prokes). "Intinya, tenang dan taati prokes," imbaunya.
Sebelumnya, Juru Bicara Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan, kasus Covid-19 Omicron di Indonesia berasal dari pelaku perjalanan luar negeri. "Total 254 kasus, terdiri dari 239 kasus dari pelaku perjalanan internasional dan 15 kasus transmisi lokal," ujarnya. (rmt/rek) Editor : Lambertus Hurek