Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Penderita HIV/AIDS di Jatim 2.526 Orang, Surabaya Paling Banyak

Lambertus Hurek • Kamis, 2 Desember 2021 | 03:39 WIB
Sejumlah pekerja seks diamankan di kawasan Kembang Kuning, Surabaya. Mereka tergolong berisiko tinggi HIV/AIDS. (DOK)
Sejumlah pekerja seks diamankan di kawasan Kembang Kuning, Surabaya. Mereka tergolong berisiko tinggi HIV/AIDS. (DOK)
SURABAYA - Sebanyak 2.526 orang di Jawa Timur terinfeksi virus HIV/AIDS. Data yang dirilis Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur menyebutkan, Surabaya berada di peringkat pertama dengan 323 pasien, disusul Banyuwangi 186 orang, dan Jember 174 orang. Kabupaten Pacitan terendah dengan 5 orang pasien.

Kepala Dinkes Jatim Dr Erwin Ashta Triyono mengatakan, pihaknya telah melakukan pelbagai upaya untuk menekan angka HIV/AIDS di Jawa Timur. Mulai sosialisasi ke seluruh lapisan masyarakat, sosialisas perda dan pergub tentang HIV hingga memperluas layanan testing HIV dan layanan perawatan dukungan pengobatan (PDP) di 38 kabupaten/kota.

Dinkes juga telah menyiapkan kebutuhan logistik testing HIV, infeksi menular seksual (IMS), obat antiretroviral (ARV) hingga infeksi oportunistik (IO). “Kami sudah koordinasi dengan multisektor, multiprogram, komunitas, dan stakeholder terkait, termasuk kelompok dukungan sebaya dari ODHA,” kata Erwin pada peringatan Hari AIDS Sedunia, Rabu (1/12).

Di samping itu, Dinkes Jatim juga melakukan mentoring klinis HIV IMS komprehensif ke beberapa layanan PDP. “Kami telah melakukan pelatihan HIV dan IMS komprehensif ke beberapa layanan PDP, melakukan orientasi notifikasi pasangan HIV. Juga monitoring dan evaluasi secara berkala,” terang Erwin.

Tema nasional Hari AIDS tahun ini, Cegah HIV, Akses untuk Semua. Tujuannya mengajak segenap pemangku kepentingan beserta seluruh lapisan masyarakat untuk semakin memperkuat komitmen, peran serta dan dukungan serta bergerak, bekerja sama dan bersinergi dalam melaksanakan pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS, guna mencapai Ending AIDS tahun 2030.

“Upaya Dinkes Jatim tidak lepas dari upaya nasional, yaitu STOP. Memberikan edukasi pada masyarakat baik itu melalui dinkes provinsi maupun kabupaten/kota, rumah sakit, puskesmas maupun LSM dan OPD terkait,” ungkapnya.

Erwin meminta masyarakat yang punya risiko segera memeriksakan diri, baik di puskesmas maupun rumah sakit. “Kalau negatif kita bersyukur, kalau positif segera kita obati. Itu penting. Kami juga melakukan pendampingan,” imbuhnya.

Agar terhindar dari penyakit mematikan itu, kata dia, pada prinsipnya penularan penyakit HIV/AIDS hanya dua. Yakni, melalui seks berisiko dan narkoba suntik. “Selama bisa menghindari dua itu pasti aman,” tegasnya.

Ia juga berpesan agar tidak mendiskriminasi pasien HIV/AIDS. “Mereka harus dianggap sebagai orang biasa. Hindari pemahaman lama sebagai penyakit yang menakutkan. Sebab, sudah ada obatnya, yaitu ARV,” pungkasnya. (mus/rek) Editor : Lambertus Hurek
#ODHA di Jatim #pasien HIV AIDS Jawa Timur #penyebaran AIDS di Jatim