Tak hanya kuantitas lulusan, namun kualitas lulusan UT Surabaya juga meningkat. UT Surabaya adalah role model pembelajaran yang fleksibel bagi seluruh perguruan tinggi yang ada di Kota Pahlawan maupun di wilayah kerja UT Surabaya.
Prestasi mahasiswa UT Surabaya tak lepas dari motivasi yang diberikan oleh civitas akademika kepada para mahasiswa, sehingga ada solusi ketika mahasiswa mengalami kesulitan dalam pembelajaran. "Kunci suksesnya, kita selalu memantau dan merawat mereka (para mahasiswa). Kalau mereka merasa diopeni itu otomatis ada keterikatan yang kuat, sehingga muncul motivasi untuk meningkatkan prestasi," tutur Suparti, Selasa (23/11).
Ketiga wisudawan juga turut hadir dalam prosesi wisuda. Mereka adalah Linda Kurniawati dari Program Studi S1 FKIP, PGPAUD yang mendapatkan IPK tertinggi yakni 3,89, dan perwakilan wisudawan lainnya yakni Indah Cahyani Mustikaning Tyas dari Program Studi S2 Fakultas Ekonomi mendapatkan IPK 3,89, dan Siti Nur Utami dari Program Studi S1 Fakultas Ekonomi, jurusan Akuntansi dengan IPK 3,72.
Wisudawati dari S1 PGPAUD, FKIP, Linda Kurniawati mengaku bangga menjadi lulusan terbaik dengan IPK tertinggi 3,89. Linda mengaku, semangat dan disiplin waktu menjadi kunci untuk mendapatkan prestasi akademik. Selain itu ditunjang dengan fasilitas yang diberikan UT Surabaya selama proses belajar. "Ya bangga sekali. Karena ini tidak lepas dari dukungan orang tua dan keluarga, semangat dan disiplin waktu agar mendapatkan nilai yang baik," kata Linda.
Menurutnya, banyak pembelajaran yang dipetik selama kuliah di UT Surabaya. Seperti sistem kuliah yang fleksibel ditunjang dengan fasilitas online yang lengkap, sehingga ia bisa membagi waktu dalam bekerja maupun belajar. Ia berharap bisa mengaplikasikan ilmu yang didapat dari belajar di UT Surabaya.
"Ini yang menjadi motivasi saya selama ini. Saya bekerja sekaligus belajar. Dukungan fasilitas UT Surabaya selama pembelajaran jarak jauh, bisa memberikan efek yang baik untuk saya. UT Surabaya juga sangat responsif kepada mahasiswanya," tutur wisudawati asal Lamongan tersebut.
Para mahasiswa UT Surabaya memang sudah terbiasa kuliah mandiri dan jarak jauh. Mental dan kompetensi mahasiswa pun tertempa dengan matang. Hal inilah yang diakui oleh wisudawati, Indah Cahyani Mustikaning Tyas dari Program Studi S2 Fakultas Ekonomi.
Dikatakannya, selama kuliah di UT Surabaya, ia bisa membagi antara tugas belajar dan bekerja. Wanita yang bekerja di Badan Pusat Statistik (BPS) itu menuturkan strategi jitu dalam belajar di UT yakni kedisiplinan belajar. "Kuncinya disiplin untuk bisa membagi waktu antara belajar dan bekerja. Sebetulnya gak susah. Tinggal ngatur aja. Dosennya alhamdulillah enak-enak dan komunikatif," tuturnya.
Ia mengaku tidak menyangka mendapatkan IPK 3,89. Karena selama ini ia hanya menjalankan tugas sebagaimana mahasiswa yakni belajar. Selain itu, ia juga mengaku senang ketika kuliah di UT Surabaya karena kuliahnya fleksibel. "Senang kuliah di UT Surabaya, karena kuliahnya online. Bisa menyesuaikan dengan jam kerja," sambung Indah.
Wisudawati Siti Nur Utami dari Program Studi S1 Fakultas Ekonomi, jurusan Akuntansi berharap dengan modal belajar di UT Surabaya bisa memanfaatkan ilmu di tengah masyarakat. "Semoga ini bisa menjadi bekal saya ke depan untuk terus berkarir dan memberikan manfaat kepada masyarakat," harapnya.
Sementara itu, Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Terbuka Dr. Mohamad Yunus, S.S., M.A. mengatakan, untuk mendapatkan gelar sarjana dibutuhkan motivasi dan kerja keras. Selain itu, wujud kesuksesan kelulusan tidak lepas dari peran keluarga yang mendukung para mahasiswa dalam mencapai kelulusan di UT. "Ada cucuran keringat pengorbanan dari dukungan keluarga di tengah ikhtiar saudara (para wisudawan, Red) dalam menggapai gelar akademis," tutur Yunus yang mewakili Rektor UT Prof Ojat Darojat.
Namun demikian, Yunus menegaskan pascawisuda yang harus ditempuh yakni konsekuensi dan tanggung jawab dalam menyandang gelar S1 maupun S2 yang harus bisa dilakukan di tengah masyarakat. "Karena gelar harus membuat lebih baik. Lebih baik dalam bekerja dan tentunya kontribusi kepada masyarakat. Pokoknya setelah wisuda harus ada perubahan yang nyata," tegasnya menyemangati para wisudawan UT Surabaya.
Mahasiswa memiliki kemampuan yang lebih baik dan menaklukan misi ke depan. Oleh karena ia menyebut UT juga memiliki tantangan yang besar dan terus berinovasi agar menjadikan lulusannya berkualitas. Dengan begitu menjadi UT lebih tangguh berkualitas dan menginspirasi banyak orang. "Jadi, saat ini UT tengah melakukan penerapan digital learning system. Kemudian perubahan status PTN BH. Dan tentunya reformasi kurikulum. Ini yang akan menjawab tantangan kedepan," jelasnya.
UT Surabaya membawahi 18 kota/kabupaten di Jatim. Seperti Madura, Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Tuban, Bojonegoro, Ponorogo hingga Madiun terus mengikuti perkembangan zaman. Oleh karena itu peningkatan mahasiswa ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas SDM dan berkompeten dalam mengimplementasikan tri dharma perguruan tinggi. (rmt/opi) Editor : Administrator