"Kami mengaku bersyukur kabarnya tidak ada penyekatan di pada PPKM level 3. Jadi, penumpang harus menggunakan protokol kesehatan yang ketat. Kalau untuk protokol kesehatan sejauh ini sudah dipastikan dipatuhi," ujarnya, Senin (22/11).
Firman berharap pemerintah tidak mengambing hitamkan angkutan umum jika nantinya ada lonjakan kasus. Ia memastikan sejauh ini sudah mematuhi regulasi yang ada. "Justru yang harus diwaspadai adalah angkutan gelap berplat hitam. Sebab, biasanya mereka mengangkut penumpang dengan kedok mobil pribadi," ungkapnya.
Firman mengaku memahami keputusan pemerintah memberlakukan kembali PPKM Level 3 untuk mencegah gelombang ketiga pandemi Covid-19 di akhir tahun. Meski demikian, ia berharap kebijakan ini tidak terlalu lama. "Jika terlalu lama, kasihan para pengusaha maupun awak angkutan," katanya.
Sementara itu, pengusaha perhotelan di Jawa Timur memperkirakan akan ada penurunan okupansi kamar di akhir tahun lantaran adanya kebijakan PPKM Level 3. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jatim Dwi Cahyono mengatakan, saat ini pengusaha tidak bisa berbuat banyak dengan adanya kebijakan tersebut.
“Sebetulnya akhir tahun adalah masa panennya perhotelan setelah satu tahun ini kita puasa. Panennya itu Idulfitri serta Natal dan Tahun Baru. Namun, kalau memang itu langkah yang jitu itu mencegah naiknya pandemi, ya kita pasrah saja. Kita patuhi aturan daripada setelah itu ada lonjakan,” jelasnya.
Dwi memprediksi okupansi hotel bakal turun karena kapasitas kamar yang diperbolehkan buka hanya 50 persen. Sementara selama PPKM Level 1 kamar hotel telah dibuka 100 persen. "Namun, kami menyiapkan strategi menghadapinya misalnya ada pengembalian DP bagi tamu yang sudah booking. Event kemungkinan diundur sampai akhir Januari," ujarnya.
Selain itu, lanjut Dwi, perhotelan juga akan melakukan sosialisasi dan pemberitahuan kepada konsumen. Apalagi jumlah konsumen yang sudah melakukan booking kamar jelang Nataru rata-rata sudah 15 persen.
"PHRI memastikan tidak akan membikin acara Natal dan Tahun Baru. Sebelumnya boleh ada konser, acara kebudayaan, tapi sekarang ini kita tiadakan," katanya. (mus/rek) Editor : Lambertus Hurek