Kali ini, Djoko AW mengikuti Pameran Memorabilia Lintas Sejarah Pramuka yang berlangsung hingga 24 November 2021 di Gedung Perpustakaan Nasional Jakarta. Dalam pameran ini, Djoko AW mengisi tema 'Sejarah Kepanduan Tionghoa' Indonesia Scout Journalist.
"Saya sangat memburu koleksi kepanduan Tionghoa. Berambisi punya sudut koleksi Pandu Tionghoa terlengkap di Indonesia," kata Djoko AW kepada Radar Surabaya, Minggu (21/11).
Untuk mendapatkan koleksi tersebut, dia rela blusukan ke berbagai pasar barang-barang bekas di berbagai daerah Indonesia dan dunia. Hal itu dilakoninya sejak muda.
Tak heran, hal tersebut membuat hampir semua pelapak jadoelan dan buku bekas di Indonesia mengenalnya.
Bahkan saat ke luar negeri, dia akan selalu mencari scout shop. Saat di Thailand, Djoko pergi ke tempat rombengan (penjual barang bekas) di kawasan Chatuchak dengan Duta Besar Indonesia untuk Thailand, Kak Ahmad Rusdi.
"Beliau ini pimpinan Pramuka Asia Pasifik juga. Seru banget nyari pernak-pernik bersama beliau. Saya ketemu badge Pramuka Amerika Serikat yang selama ini sangat sulit dicari. Senang sekali rasanya," tutur Djoko yang juga Ketua PB PGRI 2019-2024 ini.
Untuk koleksi kepanduan Tionghoa, Djoko AW juga membutuhkan waktu yang cukup lama. Misalnya untuk pernak pernik seperti sabuk pramuka, pandu Tionghoa, pandu rakyat.
Tiga item di atas tidak ditemukan secara langsung. Jarak antara menemukan buku acara dengan badge berselang 6 tahun. Koleksi-koleksi kepanduan itu pun, pernah juga dipamerkan secara virtual pada 17 Mei-17 Juni 2021. Kini, koleksi tersebut dipamerkan di Gedung Perpustakaan Nasional Jakarta.
Di rangkaian kegiatan pameran, Djoko AW sempat menjadi pembicara tentang peran kolektor terkait dengan pendirian museum nasional pada 16 November 2021. Kecintaan terhadap Pramuka ini, membuat Djoko AW juga membuat ruang khusus pameran pernak-pernik Pramuka, B-P House, di kampus Unipa Jalan Ngagel Dadi.
Beberapa pernak-pernik Pramuka yang dikoleksinya antara lain pin dan gantungan kunci, buckle (kepala ikat pinggang), woggle (pengikat kacu leher Pramuka), scarf (kacu Pramuka), benda filateli Pramuka, badge dan buku-buku Pramuka.
“Saya ingin koleksi saya ini bisa dinikmati para pecinta Pramuka sedunia. Ketika mereka datang ke museum BP-House Indonesia, mereka punya kenangan tersendiri,” terangnya.
Untuk itu pula, dia juga sudah menyiapkan stempel khusus bagi pengunjung museum B-P House Indonesia. Ini juga akan jadi koleksi yang berharga bagi mereka. Nantinya, setelah membuat B-P House Indonesia Museum, dia berkeinginan membuat beberapa shadow museum.
Ini sebagai museum pelengkap tentang Pramuka yang menunjang keberadaan B-P House Indonesia. Misalnya tentang museum yang berisi koleksi hasduk Pramuka, atau koleksi woggle saja.
Tak mengherankan konsistensinya ke Pramuka membuat Djoko AW mendapatkan banyak penghargaan Pramuka dari berbagai negara dan lembaga di dunia. Di antaranya dia mendapatkan dua penghargaan sekaligus dari Persekutuan Pengakap Malaysia (PPM) Negeri Selangor.
Penghargaan tersebut berupa medali dan pin yang diberikan langsung oleh Dr H Ahmad Sabri Bin H Saad selaku Penolong Ketua Pesuruh Jaya Pengakap Negara Malaysia dan Prof Kalaimani. Djoko mengungkap penghargaan ini diberikan dalam rangka pingat peringatan 100 tahun Pengakap Selangor dan peringatan 110 tahun Pramuka.
"Saya orang ke 87 dari 1.000 orang yang mendapat penghargaan pin ini, sedangkan medali untuk 110 tahun Pengakap di Selangor," ungkap penggiat pramuka sejak kelas IV SD ini.
Penghargaan ini diberikan untuk kontribusinya terhadap Pramuka di Selangor. Antara lain aktif mengunggah pengetahuan pramuka dan pernak-pernik pramuka di media sosial. "Tentunya, ini dianggap menjadi bahan pengajaran dan dokumentasi gerakan kepanduan dunia," kata Djoko AW. (nin/jay) Editor : Administrator