Menurut Kabid Kelautan dan Perikanan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya Aswan, saat ini ada sekitar 50 petani garam yang masih bertahan, dibandingkan dengan tahun lalu yang masih sekitar 100 petani garam.
Penurunan tersebut dikarenakan berbagai faktor seperti lahan tambak yang tergerus dengan pembangunan. Para petani garam tersebut banyak yang berasal dari Madura.
"Sebanyak 90 persen petani garam dari Madura, jadi mereka di sini hanya sebagai pihak ketiga. Bisa jadi sama pemiliknya (pemilik tambak) dipergunakan untuk lainnya, itulah faktor berkurangnya petani garam saat ini," katanya.
Ia menyebut, jumlah lahan tambak pun di masing-masing wilayah berbeda-beda. Ada yang 20 hektare ada yang 15 hektare, tergantung dari keberadaan lahan. "Seperti di wilayah Asemrowo itu ada 20 hektare lahan tambak garap. Mereka menggarap lahan tambak garam sudah pulahan tahun. Sedangkan di Benowo kurang lebih ada 30 hektare, ada juga yang di depan terminal Osowilangon itu sekitar 15 hektare lahan tambak," jelasnya.
Hingga kini 50 petani garam berasal dari dari 10 kelompok di tiga Kecamatan di Surabaya, Benowo, Pakal, dan Asemrowo. Pihaknya mengaku, tidak bisa menggenjot produktivitas garam lokal bagi para petani. Namun tetap melakukan pendampingan petani garam di Surabaya dengan penyuluhan pertanian lapangan (PPL). Pendampingan tersebut juga untuk memberikan solusi terhadap harga garam yang juga terus merosot.
"Ya sekarang garam turun drastis, per kilogramnya nggak sampai seribu. Namun mereka menghasilkan sampai berton-ton garam. Kemarin ada 70 ton hingga 100 ton. Mereka tampung di gudang sembari menunggu pembeli," ujarnya.
Aswan mencontohkan, PPL bagi petani garam saat ini yang dihadapi dengan banyak faktor, misalnya cuaca yang masih ada musim hujan di tengah kemarau. Ketika masih ada hujan seperti ini metodenya ya kalau hujan pakai membrane.
Prosesnya tetap hanya beda medianya saja, yakni menempatkan air tuah (bahan garam dari air laut) ke media terpal atau membran saat pengeringan. "Dengan metode ini sebenarnya baik kualitas maupun kuantitasnya meningkat. Tapi tetap bergantung cuaca," ujarnya. (rmt/nur) Editor : Lambertus Hurek