Salah satu pengunjung, Norma mengaku takjud dengan penampilan THP Kenjeran saat ini. Karena selama ini objek wisata itu kurang menarik dan juga terlihat kumuh. "Ya ini saya lihat sudah bagus penataannya. Dulu kumuh banget. Tidak seperti tempat wisata," ungkapnya.
Kini ia mengaku bisa menikmati suasana pantai yang bener-bener nyaman meski belum ada mainan anak-anak yang dioperasikan. "Penataan pedagangnya sudah rapi. Tapi sayangnya belum ada mainan untuk anak-anak. Mungkin masih belum jadi ya?" ujarnya.
Sementara itu Kepala UPTD THP Kenjeran, Wisata Air Kalimas dan Wisata Religi Ampel Saidatul Mahruna mengatakan, pada pembukaan awal pengunjung mencapai 2.011 orang. Diluar perkiraan yang hanya menargetkan 1.000 orang saja. "Target awalnya 1.000 orang. Tapi diluar perkiraan yang berwisata dari tiket yang terjual mencapai 2.011 orang," jelasnya.
Meningkatkannya jumlah wisatawan ini karena selama hampir dua tahun THP Kenjeran tidak dibuka dan sekarang sudah buka dengan tampilan yang berbeda setelah direvitalisasi. Mereka yang hendak berkunjung harus melakukan pemesanan melalui tiket online.
"Tampilan saat ini beda karena baru saja selesai diperbaiki. Kini pengunjung bisa menikmati suasana pantai secara langsung sambil berkuliner. Fasilitasnya sudah diperbaiki semua. Ada gazebo dan kursi kuliner yang disediakan," ujarnya. Namun untuk fasilitas mainan masih belum ada. "Untuk fasilitas mainan masih belum datang karena masih proses," imbuhnya.
Secara keseluruhan konsep baru ini lebih difokuskan pada landscape dan ruang terbuka yang memperlihatkan pemandangan laut dipadu dengan Jembatan Suroboyo. Selain itu, panggung ditepi pantai yang biasanya untuk pertunjukan musik dangdut akan diganti dengan panggung semi permanen. Yang letaknya bisa diubah-ubah. Sedangkan area bermain ditata ulang dan dibedakan berdasarkan zona sehingga ada space yang luas.
Stan yang dibangun sebanyak 204 yang terdiri dari stan pedagang kerupuk dan souvernir berjumlah 72 stan. Kemudian stan untuk pedagang makanan dan baju berjumlah 132 stan. (rmt/nur) Editor : Lambertus Hurek