Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Surabaya Antiek Sugiharti mengatakan, sejumlah objek wisata di Surabaya sudah aktif beroperasi. Namun, belum semua objek wisata dibuka. Pembukaan akan dilakukan secara bertahap sambil menunggu hasil asesmen Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya.
"Kalau dibuka 100 persen itu memang diizinkan karena Surabaya sudah masuk level 1. Tapi semua kan tergantung pengelolanya dan harus ada asesmen dulu," kata Antiek, Rabu (3/11).
Menurut dia, objek wisata di Surabaya ini ada yang dikelola Pemkot Surabaya dan ada yang dikelola swasta. Sejauh ini jumlah objek wisata yang sudah beroperasi berkisar 45-50 persen. "Pembukaannya memang bertahap. Mungkin juga mereka melihat pangsa pasar. Selain itu, ada pembatasan untuk pengunjung," terangnya.
Destinasi wisata yang sudah dibuka antara Kebun Binatang Surabaya (KBS), taman-taman aktif, taman hutan rakyat (tahura), wisata Kalimas, hingga museum. Sedangkan yang dikelola oleh swasta masih sedikit yang beroperasi. Mereka pun sedang menunggu hasil asesmen Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya. Selain itu, menyiapkan sarana prasarana untuk menunjang prokes. Salah satunya kewajiban pengelola menyiapkan aplikasi PeduliLindungi.
"Objek wisata juga wajib ada scan barcode aplikasi PeduliLindungi. Sehingga mereka buka secara bertahap. Sekarang belum full," tuturnya.
Sementara itu, okupansi hotel sudah meningkat sampai 50 persen. Tercatat ada peningkatan okupansi sejak Surabaya berstatus PPKM level 1. "Okupansi hotel sudah jauh meningkat sampai 50 persen," ungkapnya.
Kini, hotel-hotel berbintang sudah mulai sibuk menerima tamu. Baik weekday dan lebih-lebih akhir pekan alias weekend. Okupansi di akhir pekan bisa meningkat lebih dari 50 persen.
Bukan hanya untuk liburan, pengunjung juga memanfaatkan ballroom hotel untuk menggelar kegiatan meeting, incentive, convention, exhibition (MICE). Ruang pertemuan dengan kapasitas besar itu boleh difungsikan dengan kapasitas maksimal 50 persen. Sebelumnya fasilitas itu ditutup untuk menghindari penularan Covid-19.
"Surabaya ini kan kota perdagangan dan jasa. Tentu potensi di bidang MICE sangat besar bagi hotel," kata Antiek. (rmt/rek) Editor : Lambertus Hurek