Kasi Statistik Sosial BPS Kota Surabaya M.Imron mengungkapkan, apabila tidak ada pandemi Covid-19 maka hasil sensus perkembangan jumlah penduduk kota Surabaya yang lebih besar. "Kalau kondisi tidak pandemi akan jauh dari jumlah itu (sensus)," katanya.
Sementara itu jumlah angka penduduk versi BPS Kota Surabaya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan hasil data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kota Surabaya tahun 2020. Dari data Dispendukcapil mencatat jumlah penduduk Kota Pahlawan 2020 sebanyak 2.970.730 jiwa. Artinya ada selisih 96.416 jiwa dari hasil sensus BPS 2020. Jumlah penduduk yang dicatat Dispendukcapil lebih banyak dari versi sensus BPS.
"Jumlah ini berdasarkan hasil pemuktahiran dan pembersihan data di Ditjen Dukcapil (Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Red) Kemendagri," kata Kepala Dispendukcapil Kota Surabaya Agus Imam Sonhaji.
Agus menjelaskan, pihaknya bisa memahami mengapa ada perbedaan jumlah penduduk versi sensus BPS dengan data instansinya. Menurutnya, ada beberapa faktor yang memicu perbedaan jumlah. Salah satunya karena penduduk yang pindah domisili secara diam-diam.
Penduduk yang sudah pindah tempat tinggal ke luar kota pasti tidak tersentuh oleh kegiatan sensus oleh BPS. Sebab petugas sensus yang bertugas di lapangan otomatis tidak menemukan. Dengan begitu yang bersangkutan tidak tercatat dalam data BPS.
Padahal data kependudukan di dispendukcapil, yang bersangkutan tetap masuk dalam data penduduk Kota Surabaya. (rmt/nur) Editor : Lambertus Hurek