Proses membatik itu dikenal dengan ecoprint. Puluhan ibu-ibu dari sejumlah wilayah di Jawa Timur belajar ecoprint di Dyandra Convention Center, Jumat (22/10). Puluhan emak-emak itu nampak memegang kain putih, palu dan beberapa jenis dedaunan.
Mereka kemudian membeberkan kain putih berukuran 1 meter di lantai. Tak lama beberapa jenis dedauanan ditempelkan rapi di pinggir-pinggir kain sesuai dengan pola yang diinginkan. Kain putih itu kemudian dilipat menjadi dua bagian.
"Jadi daunnya dihimpit lipatan kain. Nah, setelah itu baru dipukul-pukul sampai ada warna dari daunnya keluar dan membatik di kain ini," ujar salah satu peserta pelatihan ecoprint, Nusye, 50.
Wanita asal Taman Pondok Legi Kecamatan Waru Sidoarjo ini mengakui, jika teknik dalam membuat ecoprint cukup mudah. Peserta hanya perlu ketok-ketok palu ke arah dauh agar warnanya keluar. Setidaknya butuh sekitar 100 ketokan agar sempurna.
Pelatih ecoprint, Lina Sofa Rida mengatakan, jika daun yang digunakan tak sembarangan. Yaitu butuh dauh yang mengandung klorofil. Setidaknya ada tiga jenis daun yang biasa digunakan dalam pembuatan ecoprint itu, seperti daun jati, daun talu dan daun kelor.
"Jadi ini ramah lingkungan. Daun-daun itu sangat mudah sekali ditemukan di sekitar rumah kita. Biasanya daun itu juga dapat dipakai untuk obat herbal juga," ujarnya.
Bagaimana agar warnanya tak hilang? Kain yang sudah diketok palu itu tak langsung digunakan. Kain harus dibiarkan terlebih dahulu antara tiga sampai lima hari. Usai didiamkan baru dilakukan proses fiksasi alias proses penguncian warna agar tak luntur.
Misalnya dengan merendamnya dengan tawas atau memakai larutan tunjung. Jika memakai tawas, maka warnanya hampir sama dengan semula. Namun jika memakai tunjung maka warna yang dihasilkan akan lebih tajam lagi.
"Jadi semakin tajam warnanya makan akan semakin mahal. Karena warnanya semakin kuat. Itu malah bagus karena pewarna alami dari daun-daunan yang ramah lingkungan," ujar wanita yang kerap disapa Lina itu.
Ada banyak yang bisa dibuat dengan teknik ecoprint. Mulai sarung bantal, mukena, hingga jilbab. Uniknya lagi, ecoprint cukup mudah dilakukan di rumah, terlebih bagi ibu-ibu rumah tangga. Hanya saja memang membutuhkan ketelatenan.
Bagi pemula, membuat ecoprint butuh waktu antara 1 hingga 1,5 jam untuk satu kain. Tergantung motif atau pola yang diinginkan. Namun bagi yang sudah biasa, paling-paling hanya butuh 30 menit saja. Jika dijual, untungnya juga menjanjikan.
"Nah daun kelor, jati dan katu kan beda-beda coraknya. Jadi itu bisa di-mix nanti. Malah bagus nanti motifnya sesuai dengan motif yang melekat pada daun itu sendiri," terang Lina. (far/nur) Editor : Lambertus Hurek