Tak hanya itu, kawasan itu dikenal dengan Kampung Semanggi. Salah satunya di RT 07 RW 03 Kampung Kendung, Sememi, Benowo. Penamaan Kampung Semanggi bukan tanpa alasan. Sebab hampir seluruh warganya bertani Semanggi.
Saat akan memasuki Kampung Semanggi, pelancong akan menemukan gapura cukup besar. Gapura tersebut tertulis Kampoeng Semanggi. Di samping gapura, terdapat petunjuk arah dengan tulisan yang sama, yaitu Kampoeng Semanggi Benowo. Di sepanjang jalan kampung itu, ada pemandangan Semanggi.
Semanggi itu sengaja dijemur oleh para petani agar kering. Semanggi-semanggi itu ditanam petani di area pesawahan. Sekitar tiga kilo meter dari perkampungan itu. Usai dijemur, para penjual semanggi akan datang mengambilnya semanggi kering dari para petani.
"Biasa mulai dijemur pukul 10.00. Kalau memang benar-benar terik, cukup 2,5 jam saja jemurnya. Sudah bisa dibungkus dan dijual kepada penjaja Semanggi," ujar Solikhin, 50, salah satu petani.
Pemandangan itu hampir setiap hari dijumpai di perkampungan itu. Semanggi itu sengaja dijemur kering agar bisa lebih tahan lama. Bahkan bisa tahan sampai tiga bulan lamanya, jika dibanding dengan semanggi basah, sehingga semanggi kering lebih awet.
Perkampungan semanggi itu sudah ada sejak puluhan tahun silam. Tak jarang ada saja akademisi yang datang melakukan penelitian di Kampoeng Semanggi Benowo itu. Mereka biasanya meneliti kualitas Semanggi yang dijemur petani secara manual itu.
Perjuangan para petani semanggi di Kampoeng Semanggi Benowo itu patut diacungi jempol. Sebab tanpa mereka kuliner khas Surabaya itu mungkin sudah lenyap sejak dahulu. Apalagi pecel semanggi menjadi menu wajib pernikahan di Surabaya. (far/nur) Editor : Lambertus Hurek