Kawasan prostitusi ini begitu terkenal, bahkan jika menyebut Surabaya maka salah satu yang diingat pasti Dolly. Nama gang ini merupakan nama salah satu mami (germo) di lokalisasi tersebut dan sangat beken pada masa itu. Setiap malam, suara musik saling bersahutan dari dalam kafe. Semakin silau dengan cahaya lampu dan wanita-wanita berpakaian seksi yang secara terang-terangan dijajahkan.
Namun ini hanya kisah masa lalu. Sekarang Dolly menjadi sentra kerajinan tangan di Surabaya, bergerak menjadi sentra ekonomi warga. Ini salah satu terobosan wali kota saat itu untuk memberdayakan masyarakat sekitar tanpa bergantung bisnis prostitusi.
Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Airlangga (Unair) Gigih Prihantono mengungkapkan, dahulu perputaran uang di Dolly bisa mencapai angka Rp 1 miliar per hari. Ini tentu berbeda dengan sekarang.
"Tentu ada penurunan kesejahteraan masyarakat di sana. Ini harus dipikirkan pemerintah," katanya.
Ia berharap Pemkot Surabaya memiliki masterplan untuk pengrajin di sana. Dengan begitu, perputaran uang dan kesejahteraan masyarakat di sana paling tidak sama dengan dulu. "Jika tidak akan jadi bom waktu. Dampaknya akan banyak prostitusi terselubung tumbuh di sana maupun lokasi lain," terangnya. (gun/nur) Editor : Lambertus Hurek