"Kami mengembangkan program double track dengan mendorong semua SMA harus memberikan pembelajaran vokasi dan harus memberikan keterampilan khusus kepada siswanya," ujar Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Wahid Wahyudi, Jumat (15/10).
Ia menambahkan, jika siswa lulusan SMA yang ingin menjadi karyawan perusahaan bisa menjadi karyawan yang profesional. Selain itu, siswa akan diberi bekal akademik apabila ingin melanjutkan ke perguruan tinggi.
"Akan lebih hebat lagi bila siswa SMA yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Dia sela waktu belajar bisa memproduksi sehingga bisa membiayai kuliahnya dan dirinya sendiri," kata Wahid.
Menurut dia, hal ini sudah banyak dilakukan oleh alumnus SMA jalur ganda. Banyak juga yang berpenghasilan lebih dari upah minimum kabupaten/kota (UMK). "Ada yang bergerak di bidang kecantikan dengan membuka salon, ada yang dari tata boga, juga ada yang melakukan servis kendaraan, itulah yang kita harapkan dari siswa alumni," jelasnya.
Kepala Bidang Pembinaan SMA Dindik Jatim Ety Prawesti menambahkan, tantangan pengembangan SMA double track adalah skill dan kreativitas para trainer yang berasal dari guru di sekolah bersangkutan. Ini lebih penting daripada merekrut trainer profesional atau praktisi dari luar.
"Trainer yang berasal dari unsur guru atau tenaga kependidikan juga punya sisi lebih karena kesinambungannya lebih terjaga dalam mengakses para siswa bahkan ketika siswa sudah lulus sekalipun," jelasnya.
Setelah berhasil sebagai pusat pelatihan dan pusat produksi, Ety mengatakan, target yang lebih menantang pada tahun ketiga adalah sekolah sebagai pusat pemasaran. Harapannya, sekolah dapat memasarkan lebih luas dan juga telah memulai mengurus legalitas usaha. "Terbentuknya double track mart di sekolah menjadi sarana bagi sekolah mengembangkan dan memasarkan produknya," pungkas Ety. (mus/rek) Editor : Lambertus Hurek