“Alhamdulillah, dua hari ini tercatat di bawah 10 kasus. Ini merupakan kasus penambahan kematian terendah selama pandemi,” ujarnya, Minggu (10/10).
Mantan menteri sosial ini menyebutkan, ada 30 kabupaten/kota di Jatim tercatat 0 penambahan kasus kematian. Artinya, 78,95 persen daerah di Jatim tidak kasus kematian karena Covid-19. “Terdapat beberapa hal yang membuat bertambah rendahnya kematian di Jatim. Yaitu adanya kemampuan respons yang memadai,” katanya.
Respons ini antara lain kapasitas tracing yang cukup. Kemudian ditunjang jumlah testing yang mencapai 170 ribu per minggu. Positivity rate yang rendah mencapai 0,49 persen per minggu. “Dampaknya kasus-kasus terkonfirmasi positif bisa ditemukan lebih awal sehingga isolasi bisa cepat dilakukan. Jadi, kemungkinan kasus-kasus menyebar pada orang berisiko tinggi bisa dihambat. Dengan demikian, kematian bisa ditekan,” jelasnya.
Khofifah mengatakan, tracing atau penelusuran kontak erat di Jatim sudah pada angka 22,52 persen. “Ini membuat kasus-kasus terkonfirmasi bisa direm, supaya tidak menulari kepada mereka yang berisiko tinggi atau komorbid. Sehingga mereka tidak tertular Covid-19 dengan gejala berat,” katanya.
Selain itu, lanjut Khofifah, tingkat isian rumah sakit (BOR) per 9 Oktober tercatat 7 persen. Isolasi 4 persen dan RS Darurat Covid-19 tercatat 2 persen. Sesuai standar World Health Organization (WHO), BOR harus di bawah 60 persen. “Dengan demikian, BOR di Jawa Timur baik ICU, isolasi, maupun RSDC sudah sangat jauh di bawah rekomendasi WHO,” ungkapnya.
Meski demikian, Khofifah tidak pernah berhenti mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dan disiplin menjalankan protokol kesehatan (prokes) dan percepatan vaksinasi. Ini penting karena kedisiplinan menjalankan prokes dan percepatan vaksinasi menjadi salah satu kunci untuk melindungi diri kita dan orang lain di sekeliling kita dari penularan Covid-19.
“Terima kasih atas semua kerja keras, kekompakan, dan doa terbaik untuk kita semua. Kita terus berikhtiar dan berdoa agar kondisi Covid-19 di Jatim makin terkendali dan makin melandai,” katanya. (mus/rek) Editor : Lambertus Hurek