“Ini sejalan dengan target global yang diprakarsai oleh WHO, Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE), Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-bangsa (FAO), dan Global Alliance for Rabies Control (GARC),” ujarnya.
Syahrul menyebut, rabies merupakan masalah kesehatan bersama di Indonesia. Untuk itu, dia mengajak semua pemerintah daerah dan masyarakat untuk terlibat langsung dalam program pengendaliannya dengan mengedepankan implementasi One Health. “Tahun ini Indonesia dipercaya untuk memimpin G20. Implementasi One Health adalah salah satu komponen penting kepemimpinan Indonesia,” jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, Syahrul juga me-launching dua vaksin dan satu serum buatan anak bangsa, yakni vaksin rabies, vaksin flu burung hingga serum flu babi. Ia mengaku bangga dan akan melaporkan temuan ini ke Presiden Joko Widodo. “Karena dua vaksin dan satu serum ini merupakan temuan yang pertama di dunia,” katanya.
Pertama, vaksin rabies bernama Neorobivet, yang merupakan karya asli anak bangsa. Vaksin ini sudah terregistrasi dan terverifikasi untuk vaksin pada anjing, kera, hingga kucing. Vaksin kedua, vaksin Afluvet Hilow. Vaksin ini merupakan vaksin kombinasi yang mengandung virus H5N1 atau Flu Burung dan H9N2 atau Avian Influenza. Vaksin ini juga bisa memberikan perlindungan pada virus AIH5N1.
Ketiga, serum flu babi bertajuk Scovet ASF. Serum ini merupakan yang pertama di dunia, karena selama 50 tahun penelitian, vaksin flu babi belum juga ditemukan. Selain itu, serum ini juga sudah diujicobakan di sejumlah babi ternak dan memiliki efektivitas hingga 52 persen.
“Kalau vaksin sudah diuji dan serum melalui proses yang panjang. Vaksin flu burung ini menjadi kebanggaan Indonesia,” jelasnya.
Syahrul mengaku menciptakan vaksin hingga serum ini melalui proses yang tidak mudah. Peneliti harus masuk ke lab, diuji berkali-kali. “Kalau salah-salah bisa kita kena virus yang membahayakan kehidupan. Pak Dirjen Peternakan, saya apresiasi. Jika ini didengar Presiden pasti bangga banget karena belum ada di dunia,” ungkapnya
Ia berharap vaksin ini bisa memberi manfaat yang besar kepada masyarakat. Sebab, virus-virus ini memiliki sifat zoonosis atau bisa menular ke manusia. “Jangan anggap satu virus tidak bisa menjadi 100 atau satu juta menjadi dua juta. Pengalaman dengan Covid-19 ini kita sudah dua tahun, semua pakai masker. Kita lawannya virus yang tidak kelihatan dan bisa masuk ke semua sektor. Ini adalah bagian untuk mengingatkan kita bahwa rabies menjadi tantangan bagi kesehatan masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementan Nasrullah mengatakan pihaknya telah mengalokasikan vaksin dan operasional pengendalian rabies, khususnya untuk wilayah tertular dengan risiko tinggi. Kawasan risiko tinggi diupayakan mendapat alokasi vaksin sebanyak 70 persen populasi hewan penular rabies. “Sedangkan untuk daerah risiko rendah dan bebas, alokasi vaksin cukup untuk vaksinasi tertarget dan vaksinasi darurat,” katanya.
Nasrullah berharap pemerintah daerah juga mendukung program ini. Tak hanya itu. Pihaknya juga menggandeng mitra kerja internasional seperti FAO, AIHSP, dan USAID dalam pengendalian dan penanggulangan rabies. “Kerja sama dengan kementerian dan Lembaga sebenarnya sudah berjalan baik, khususnya dengan Kemenkes, KLHK dan Kemenko PMK. Ini perlu terus dipertahankan dan diperkuat agar target Indonesia bebas rabies 2030 dapat tercapai,” pungkasnya. (mus/rek) Editor : Lambertus Hurek