Peraturan baru ini diuji coba di DKI Jakarta, Kota Bandung, Kota Jogjakarta, dan Kota Surabaya. Pantauan Radar Surabaya di salah satu mal di Surabaya, Selasa (21/9) siang, terlihat beberapa orang tua mengajak anaknya masuk ke mal. Petugas hanya memeriksa aplikasi PeduliLindungi orang tua. Kemudian si anak hanya dicek masker saja.
Salah satu pengunjung, Erwin, mengaku senang karena pemerintah memperbolehkan anak-anak masuk mal. “Senang sih karena anak-anak bisa lihat-lihat. Bisa refreshing. Karena selama ini mereka di rumah jadi jenuh,” ujarnya.
Asisten Marcomm Manager Grand City Mall Yuvit Ikhwanul Shafa mengatakan, sejak diperbolehkan anak-anak masuk mal ada kenaikan pengunjung 70 persen. Ia memastikan semua orang tua yang membawa anak-anak sudah patuh prokes. Juga sudah ada izin Satgas Covid-19.
“Sebelum pandemi ada komunitas anak kayak fashion show, traditional dance. Rencana kami akan akan digelar lagi, namun harus izin dulu ke Satgas Covid-19,” jelasnya.
Ia menyebut saat ini hampir 95 persen tenant sudah buka. Omzet pun otomatis naik. “Semula di bawah 50 persen, sekarang sudah 76 persen,” ujarnya.
REFRESHING: Novie Chandra bersama anaknya Breanna Feodara dan Nauval Feyza Hermawan menikmati suasana mal Grand City Surabaya, Selasa (21/9). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)
Sesuai Instruksi Menteri Dalam Negeri (Imendagri), anak-anak sudah boleh masuk mal tetapi dengan prokes dan didampingi orang tua. Yang wajib scan barcode aplikasi PeduliLindungi tetap orang tua. Selain itu, beberapa mal juga sudah terlihat pengunjung anak-anak kecil. Namun, sebagian masih belum terlihat membuka tempat bermain anak-anak.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Surabaya Wiwiek Widayati mengatakan, pihaknya akan terus memantau pusat perbelanjaan di Surabaya yang saat ini sudah mulai buka semua. Termasuk diperbolehkan anak-anak kecil masuk mal. “Ini masih dalam tahap uji coba. Perkembangan selanjutnya kami menunggu arahan pusat,” ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengimbau masyarakat Surabaya agar tidak terlalu bereuforia ketika ada pelonggaran. Tetap patuh prokes agar Surabaya bisa kembali bangkit ekonominya. “Saya sampaikan ke teman-teman satpol PP dan camat, waktunya kita kuatkan lagi. Jangan sampai terlalu euforia. Kita semua harus menjaga,” tegasnya.
Ia juga meminta seluruh jajarannya yang bertugas di lapangan agar selalu humanis dalam mengingatkan prokes. “Jangan pernah pakai marah dan emosi. Ini warga kota yang butuh makan dan ekonomi gerak. Saya kembalikan ke warga. Tolong dijaga dengan pakai masker. Saya kemarin lewat depan PTC ramai sekali. Jadi, kami minta untuk selalu patuh prokes,” katanya.
Saat ini Surabaya masih masuk PPKM level 3 meski sudah mengalami penurunan kasus hingga kematian yang melandai. Kemudian vaksinasi terus digencarkan. Namun, masih ada kendala karena terkait wilayah aglomerasi.
“Kita terus melakukan percepatan vaksinasi. Di dalam Inmendagri Surabaya masih level 3. Tapi mal di Surabaya umur 12 bisa masuk. Pedagang bisa jualan sampai jam 12.00 malam,” pungkasnya. (rmt/rek) Editor : Administrator