SURABAYA - Raut yang tegar terlihat dari wajah Marsuli, 46, warga Gembong V, Surabaya. Ayah korban itu masih berada di Makam Rangkah seusai pemakaman anak keempatnya, MR, 16, yang menjadi korban tawuran antar geng di Jalan Tembaan, Jumat (27/11) dini hari. Marsuli sempat lemas selepas pemakaman.
Ia mengaku pertama kali mengetahui anaknya meninggal dunia saat datang ke lokasi kejadian usai salat Subuh. Marsuli menceritakan, malam sebelum kejadian, sekitar pukul 20.00, anaknya berpamitan hendak ke warung. Korban bahkan sempat meminta uang Rp 10 ribu untung membeli pentol dan ke warung yang berada di Gembong III, Surabaya.
MR biasanya pada malam hari ke warung tersebut bersama temannya untuk memanfaatkan Wifi gratis. "Saya beri uang karena sempat membantu saya angkat-angkat barang. Saya juga minta jangan pulang malam-malam karena malam Jumat," ujarnya.
Marsuli sempat melihat anaknya berada di warung tersebut saat ia datang sekitar pukul 22.00. Saat itu, Marsuli sempat mengajak anaknya pulang. Namun, anaknya masih ingin berada di warung. "Katanya sebentar lagi," ungkapnya.
Marsuli sempat waswas karena lewat tengah malam anaknya tidak juga pulang. Hingga akhirnya usai salat Subuh ada anak-anak yang mengetuk pintu rumahnya sambil berteriak. "Saya dikabari sama anak-anak kecil itu, saya ditunjukkan foto anak saya, katanya kena bacok. Saya langsung pergi ke Jalan Tembaan," tuturnya.
Setelah sampai di TKP, Marsuli hanya terdiam. Ia melihat anaknya sudah meninggal dunia dan ditutupi daun serta ranting pohon. "Saya waktu itu mau nangis tidak bisa. Marah tidak bisa. Saya ikhlas saja," ungkapnya lirih.
Menurut keterangan Marsuli, MR mengalami luka bacok di dada sebelah kiri hingga tembus ke bagian perut kiri, betis kiri, dan kepala bagian belakang. "Saya berharap pelakunya segera tertangkap. Ada beberapa foto anak (diduga pelaku) yang ditunjukkan teman anak saya," katanya. (gun/rek)
Editor : Administrator