Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

BPBD Jatim Pasang Sirine EWS di 8 Kabupaten Rawan Tsunami

Administrator • Selasa, 29 September 2020 | 06:53 WIB
BPBD Jatim Pasang Sirine EWS di 8 Kabupaten Rawan Tsunami
BPBD Jatim Pasang Sirine EWS di 8 Kabupaten Rawan Tsunami

SURABAYA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jatim mencatat ada 8 Kabupaten di Jatim berpotensi tsunami. Yakni Banyuwangi, Jember, Lumajang, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek dan Pacitan


“Jadi 8 Kabupaten di sisi Selatan Jatim berpotensi tsunami lantaran berada di lempeng Indo-Australia,” ujar Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan (PK) BPBD Jatim Gatot Soebroto, Senin (28/9).


Gatot mengatakan potensi tsunami ini sudah disampaikan dari tahun-tahun sebelumnya. Sehingga sejak Juli hingga Agustus 2019, sudah dilalukan mitigasi bencana ke delapan Kabupaten tersebut. “Yakni dengan melakukan Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) Tsunami,” jelasnya.


Menurutnya mitigasi bencana itu dilakukan melalui anggaran BNPB bekerjasama dengan BPBD Kabupaten/Kota dan Provinsi, serta Tim Pentahelik. Yakni akademisi, Pemerintah, dunia usaha, masyarakat dan media. Ekspedisi Destana Tsunami ini dilakukan mulai dari Banyuwangi sampai Pacitan.


“Dalam ekspedisi tersebut masyarakat diberikan edukasi terkait apa itu tsunami, penyebab tsunami dan apa yang harus dilakukan bilamana tsunami itu terjadi. Edukasi itu diberikan ke semua Desa yang berada di wilayah pesisir Selatan Jawa, yakni 8 Kabupaten yang berpotensi tsunami,” jelasnya.


Lebih lanjut Gatot mengatakan Pemprov Jatim juga sudah memasang rambu-rambu terkait sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) tsunami pada beberapa titik. EWS ini berupa sirine yang akan berbunyi kalau terjadi bencana tsunami di beberapa titik yang terpasang.


“Selain itu rambu-rambu terkait papan imbauan sudah dipasang di pantai di Pesisir Selatan. Sehingga nantinya masyarakat sudah tahu kalau terjadi bencana tsunami harus lari ke mana dan tinggal mengikuti rambu-rambu petunjuk,” katanya.


Gatot menambahkan masyarakat sudah diberikan pengertian prinsip 20-20-20. Tujuannya agar masyarakat waspada jika gempa bumi di pesisir berlangsung lebih dari 20 detik, kemungkinan gelombang tsunami datang. Sehingga masih ada waktu 20 menit untuk menyelamatkan diri. Yakni dengan mencari tempat aman yang lebih tinggi, minimum 20 meter lebih tinggi dari wilayah terendah (pantai).


Dengan adanya Ekspedisi Destana Tsunami ini, lanjut Gatot jika ada potensi tsunami, maka Destana yang dibentuk BPBD ini harus siap siaga terhadap bencana. Termasuk dalam hal menyelamatkan diri. (mus)


 

Editor : Administrator