Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Usai Silaturahmi, 6 Warga Surabaya Satu Mobil Tercebur Sungai Brantas

Administrator • Senin, 28 Januari 2019 | 02:05 WIB
Usai Silaturahmi, 6 Warga Surabaya Satu Mobil Tercebur Sungai Brantas
Usai Silaturahmi, 6 Warga Surabaya Satu Mobil Tercebur Sungai Brantas

SURABAYA - Musibah menimpa sekeluarga asal Surabaya, Sabtu malam (26/1). Sebuah mobil Toyota Avanza nomor polisi (nopol) L 1147 BF berpenumpang enam orang tercebur di Sungai Brantas. Tepatnya di penyeberangan perahu Ngunut, Tulungagung, sekitar pukul 19.00.


Akibatnya, tiga orang masih hilang tenggelam. Mereka adalah Fitri Nursyam, 34, warga Jalan Kedungasem atau Jalan Rungkut Lor IX; Siti Yuniati, 32, warga Jalan Rungkut Lor IX/5, Surabaya; dan Siti Alfiah, 61, warga Dusun Jati, Pandansari, Ngunut Tulungagung.


Tiga orang lainnya selamat. Mereka adalah Waridi, 56, (sopir) dan Sholikatin, 56, (istri Waridi), keduanya warga Jalan Rungkut Lor IX/5, dan Imam Shodikin, 44, warga Bendo, Ponggok, Blitar.


Machsun Ali Makruf mengatakan, sebelumnya, istrinya Fitri Nursyam berangkat ke Blitar bersama mertuanya Waridi dan kakak iparnya berkunjung ke keluarga di Blitar dan Tulungagung. Mereka berangkat dari Surabaya satu mobil sekitar pukul 06.00.


"Termasuk anak saya nomor dua, Fatir Zulfian, juga ikut," kata Machsun saat ditemui di rumah duka Jalan Rungkut Lor IX, Surabaya, Minggu (27/1).


Machsun menjelaskan, keluarganya saat itu hendak berkunjung silaturahmi ke rumah saudara di Blitar dan Tulungagung. Setelah dari Blitar, sekeluarga melanjutkan perjalanan menuju ke Tulungagung untuk menjemput Siti Alfiah, 61, (saudara Waridi) untuk diajak ke keluarga di Blitar. Setelah menjemput Alfiah, mereka sempat mampir rekreasi di Pantai Gemah, Tulungagung.


Selepas dari Pantai Gemah, sekeluarga itu kemudian hendak bermalam di Srengat, Blitar. Mereka mengambil jalan menuju Blitar melalui penyeberangan perahu tambang di Ngunut, Tulungagung. 


Namun, belum sempat menyeberang, saat menunggu perahu bersandar, mobil justru malah tergelincir masuk ke Sungai Brantas. Waridi sang sopir saat itu sempat tercebur, namun berhasil diselamatkan warga. Sementara Sholikatin dan Imam selamat karena belum naik mobil. Sementara Fitri Nursyam, Siti Yuniati, dan Siti Alfiah, hilang tenggelam bersama mobil dan terbawa arus sungai.


"Anak saya yang masih usia 5 tahun itu ditinggal di rumah saudara di Blitar, jadi ndak ikut ke Tulungagung, alhamdulilah selamat," jelasnya.


Kepada Radar Surabaya, bapak dua anak itu mengaku tak memiliki firasat apapun sebelum kejadian. Sebelum berangkat, istrinya juga pamitan. Tak ada perilaku aneh, atau pesan-pesan terakhir.


Sementara di hari  yang sama, Machsun saat itu juga perjalanan ke luar kota. Tepatnya rombongan hendak  ke Kota Rembang, Jawa Tengah. 

"Saya kemarin hendak ke pondoknya Gus Mus (KH Mustofa Bisri, Red) di Rembang. Jam lima sore, saya sempat WA kirim foto sedang makan ke istri saya, kalau saya sedang mampir makan di Tambakboyo, Tuban. Dia menjawab monggo di sekecakaken pak," ucap pria 36 tahun itu sambil menirukan balasan pesan WhatsApp istrinya.


Tapi selang dua jam kemudian, Machsun dibuat terpukul. Sebab, ia mendapat kabar dari sang mertua jika istrinya hilang tenggelam di sungai Brantas di Ngunut, Tulungagung. Begitu mendapatkan kabar, Machsun lalu kembali ke Surabaya.
"Harapannya segera ditemukan. Tapi Basarnas kan ada aturan mainnya, kalau malam tidak boleh kerja dilanjutkan besok," ucapnya.


Machsun menceritakan, ia menikah dengan istrinya tepat 2006 lalu. Setelah 13 tahun pernikahan, ia dikaruniai dua putra. Putranya yang pertama kelas IV Sekolah Dasar (SD) dan sudah belajar di salah satu pondok pesantren di Mojokerto. Sementara anak keduanya masih berusia 5 tahun.


Di mata Machsun dan keluarga, istrinya merupakan orang yang sangat baik. Sebab sejak kecil sudah belajar di pondok pesantren. "Alhamdulillah sangat baik sekali, karena istri saya semenjak mulai SMP sudah di pondokan, di Tanggulangin. SMA di Langitan, Widang, Tuban," tandasnya. 


Dari pantauan Radar Surabaya, rumah duka korban dipenuhi keluarga dan tetangga yang menunggu kabar pencarian korban. Beberapa rekan korban dan saudara datang silih berganti untuk memberikan dukungan kepada keluarga. Tak hanya itu, terop juga sudah terpasang di gang depan rumah. (rus/jay)

Editor : Administrator