Di tengah kesibukannya sebagai dokter, Intan Andaru masih tetap menekuni hobi menulis. Di awal tahun 2019 ini, Intan berbagi cerita dan pengalaman dengan para pelajar dan mahasiswa Sidoarjo di Rumah Kayu Pecantingan, Kelurahan Sekardangan, Sidoarjo.
VEGA DWI ARISTA-Wartawan Radar Sidoarjo
PEREMPUAN kelahiran Banyuwangi, 20 Februari 1990, ini kebetulan baru saja meluncurkan novel berjudul Perempuan Bersampur Merah. Meski ada unsur roman, novel ini berlatar belakang tragedi pembantaian terhadap orang-orang yang diduga melakukan praktik ilmu hitam pada Februari hingga September 1998.
Saat tragedi itu berlangsung di ujung kekuasaan Orde Baru, Intan baru berusia delapan tahun. Masih sangat hijau. Namun, kisah berdarah selalu membuatnya gelisah. Dia heran karena banyak warga menyikapi tragedi tersebut sebagai hal wajar.
"Saya heran. Mengapa anak-anak mudanya menganggap kejadian itu hal biasa. Katanya sih ya wajar kan yang dibunuh dukun santet,” kata Intan di depan sejumlah aktivis literasi Kota Delta.
Berdasarkan penelusurannya ke sejumlah sumber, Intan menemukan kenyataan bahwa bukan hanya dukun santet yang jadi korban. Saat itu pawang hujan, bahkan orang biasa pun kena.
Sang dokter yang sastrawan ini menunjukkan kepada anak-anak muda bahwa menulis novel atau karya sastra pun perlu riset. Tidak hanya membaca buku-buku atau browsing di internet, tapi harus turun ke lapangan. Maka, dia pun blusukan untuk menghimpun informasi dari masyarakat. Tidak mudah karena banyak sumber yang enggan terbuka.
“Saya harus beberapa kali bertemu, baru mereka mau bercerita. Saya saja awalnya tidak mengaku sebagai penulis, tetapi mahasiswa. Ketika sudah dekat dengan keluarga tersebut, baru saya katakan tujuan saya," katanya.
Novel itu mengisahkan tentang Sari yang dituduh sebagai dukun santet. Adapun paman sekeluarga pergi meninggalkan kampung karena stigma negatif masyarakat. Sari dibantu dua sahabatnya, Rama dan Ahmad, berusaha mencari orang-orang yang ikut andil dalam pembantaian bapaknya.
Tapi dalam pencarian tersebut, Sari, Rama, dan Amad justru memasuki kisah cinta yang rumit.
Lewat novel ini, Intan berharap bisa membuka mata masyarakat tentang kepedihan yang sebenarnya terjadi saat pembantaian tersebut.
"Supaya orang tahu bahwa pembunuhan semena-mena itu tidak bisa dibenarkan. Harus melewati peradilan dulu," tegasnya.
Intan Andaru mengaku mendapat banyak inspirasi saat bertugas sebagai dokter PTT di kawasan terpencil. Khususnya Papua dan Halmahera. Saat bertugas di Halmahera Selatan, tepatnya di Puskesmas Maffa, dia mulai membuka komunitas Gerakan Suka Membaca. Dia juga mendirikan perpustakaan umum.
Bertugas di daerah membuatnya selalu ingin mengangkat kisah-kisah sosial di pedalaman. Cerita-cerita yang mungkin belum didengar orang. “Penulis itu kan berproses. Saya tidak ingin karya saya begitu-begitu saja. Saya ingin pembaca tidak hanya terhibur, tetapi juga mendapat informasi penting dengan membaca karya saya," katanya.
Dia pun tak lupa memotivasi anak-anak muda Sidoarjo untuk memanfaatkan waktu luang untuk menulis atau melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Sebab, ada begitu banyak hal menarik di sekitar kita. (vga/rek)
Editor : Administrator