Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Warisan Saudagar Tembakau di Balongbendo

Administrator • Selasa, 25 Desember 2018 | 05:55 WIB
Warisan Saudagar Tembakau di Balongbendo
Warisan Saudagar Tembakau di Balongbendo

Pabrik Gula (PG) Balongbendo sudah lama tutup. Namun, rumah-rumah tua berarsitektur Hindia Belanda masih banyak ditemukan di Kecamatan Balongbendo. Salah satu bangunan tua yang jadi jujukan fotografer berlokasi di Desa Penambangan. Persis di pinggir Sungai Brantas.


Silvester Sili Teka-Wartawan Radar Sidoarjo


SEPERTI rumah-rumah tua peninggalan Hindia Belanda, rumah di Desa Penambangan ini tampak luas, tinggi, dan artistik. Halamannya pun sangat luas. Di samping rumah tua ada bangunan musala yang juga dibangun pada masa Hindia Belanda. Semuanya terawat dengan baik.


Sejumlah sumber menyebutkan bahwa Desa Penambangan, kampung yang berlokasi di pinggir Sungai Brantas perbatasan Kabupaten Gresik dan Kabupaten Mojokerto ini tempo doeloe jadi sentra ekonomi di kawasan Jenggolo Barat (nama Sidoarjo pada era Hindia Belanda). Ini dibuktikan dengan keberadaan Pasar Surungan yang berlokasi di dekat rumah tua di RT 11 RW 3 Desa Penambangan.


Bangunan rumahnya sangat besar dengan halaman yang jembar. Taufiq Hidayat, penghuni rumah tua itu, mengatakan, di kompleks itu dulunya ada gudang tembakau dan tempat selep atau penggilingan padi. Sampai tahun 1980-an selep itu bisa dikatakan paling besar di Sidoarjo. Gudang tembakau sudah puluhan tahun tidak berfungsi. Namun, tembok-temboknya masih terlihat.


"Saya generasi keempat yang tinggal di sini," kata Taufiq. Pria yang ramah ini tak lain cicit dari Haji Abdul Wahab (alm), saudagar kaya di Balongbendo.


Taufiq bercerita, mbah buyutnya itu membeli rumah lawas ini dari pedagang Tionghoa yang terjerat utang. Wahab melihat lokasi rumah yang strategis, dekat Sungai Brantas, jalur transportasi utama pada masa lalu. Di dekat rumah ada dermaga untuk bongkar muat hasil bumi, khususnya tembakau.


Sepeninggal Mbah Wahab, kakek Taufiq meneruskan bisnis besar itu. Hingga perekonomian berubah setelah kemerdekaan. Pabrik Gula Balongbendo tutup. Usaha tembakau pun tak lagi seksi. Namun, bangunan tua itu masih terawat sampai sekarang. Termasuk musala di samping rumah yang biasa dipakai untuk pengajian.


Masjid kecil itu tidak akan dibongkar, sesuai pesan eyang yang mewariskan rumah itu. Meski Taufiq dan keluarganya beragama kristiani. "Wasiat almarhum selalu kami pegang teguh. Dan kami berusaha sebisa mungkin merawat rumah ini," kata putra Semaun Mukti ini.


Biaya perawatan bangunan tua ini memang tidak murah. Untuk mengganti genting saja, kata Taufiq, biayanya hampir sama dengan membangun sebuah rumah sederhana. Karena beban yang berat ini, bekas gudang tembakau dan penggilingan padi tampaknya dibiarkan mangkrak. Hanya rumah induk yang sangat terawat.


Belakangan banyak anak muda, pelajar, mahasiswa, atau komunitas pencinta sejarah mampir untuk melihat (dan mengagumi) rumah tua. Taufiq mengaku tidak keberatan jika ada penggemar fotografi atau sejarah yang ingin melihat-lihat rumah warisan mbah buyutnya itu. "Ada juga pasangan calon pengantin yang foto prewedding," katanya.


Sejumlah wisatawan dari Eropa, khususnya Belanda, beberapa kali datang ke rumah Taufiq. Mereka mengagumi bangunan lawas dengan arsitektur kolonial yang masih terlihat kokoh hingga saat ini. (sil/rek)

Editor : Administrator