Banyak yang sepakat bahwa terlahir menjadi anak indigo adalah sebuah rahmat. Sebab, kemampuan ‘istimewa’ yang tidak dimiliki semua anak tersebut, bisa bermanfaat untuk orang lain.
ISMAUL CHOIRIYAH-Wartawan Radar Surabaya
Masih ingat dengan tragedi penemuan jenazah Galang Ardiansyah? Bocah 8 tahun itu ditemukan tewas di sumur milik seorang warga Jalan Bendul Merisi Gang Makam, Surabaya, akhir Juni lalu
Tak banyak yang tahu bahwa dibalik penemuan tersebut, terdapat sekelompok anak indigo yang membantu proses penemuannya. Anak-anak indigo itu adalah Kenzo, Ony, Gatot, dan Ika yang tergabung dalam Komunitas Prana Indigo Nusantara.
Radar Surabaya berhasil mendapatkan detail cerita lengkapnya. Hal ini disampaikan oleh Desi, wartawan BBS TV yang tak lain adalah ibu dari Kenzo, salah satu dari empat anak indigo itu. Desi menjelaskan, ketika itu ia dan Kenzo tergerak membantu keluarga Galang karena dorongan hati.
Setelah mendengar kabar hilangnya Galang persis di malam takbiran, Kamis (14/6), tiga hari berikutnya Desi berinisiatif mendatangi posko si anak hilang tersebut yang ada di Command Center 112 Gedung Siola, Jalan Tunjungan. Di sana, keduanya bertemu dengan Kepala Badan Pengendalian Bencana dan Perlindungan Masyarakat (BPB Linmas) Edi Kristijanto. “Niatnya cuma, satu. Kami ingin membantu dengan cara yang berbeda. Dengan cara yang bisa dilakukan anak-anak kami,” cerita Desi.
Menurut Desi, Kenzo terlihat gelisah sejak mengetahui berita raibnya Galang. Kegelisahan itu muncul karena Kenzo merasa ‘mengetahui’ di mana Galang berada, tapi dia tidak bisa leluasa menyampaikan informasi penting itu.
“Kenzo selalu seperti itu. Kalau tahu sesuatu tapi tidak disampaikan, dia bisa gelisah sendiri,” lanjut Desi.
Sempat tidak dipercaya, keduanya kemudian mulai bergerak membantu Linmas untuk menemukan jenazah Galang. Sejak datang ke kantor Linmas pada Minggu (17/6), mereka setiap hari, mulai Minggu hingga Kamis (21/6), mendatangi makam tua yang berada di desa tempat Galang tinggal. Di sana, Desi melanjutkan, mereka menemui Maemura, leluhur yang mbabat alas di kawasan Bendul Merisi. Di sana mereka mendapat jawaban bahwa jiwa dan jasad Galang sedang berada di alam lain dan tidak mau pulang.
“Percaya atau tidak, aku sama anakku (Kenzo, Red) dibawa ke alam lain dan di sana melihat Galang asyik lari-larian dengan ciri-ciri yang sama pas waktu mayat ditemukan. Makai celana hitam pendek, tidak pakai baju,” paparnya.
Semenjak itu juga mereka meminta agar jasad Galang dikembalikan ke alam nyata. Di hari Senin (18/6), mereka mendatangi keluarga korban dan mengajak untuk salat tobat bersama. Baru di hari Selasa (19/6), satu per satu dari anak indigo ini mendapatkan jawaban tentang keberadaan jenazah Galang. Petunjuk yang didapatkan oleh empat anak indigo, semuanya menjurus ke air.
“Masing-masing dari kami diberi petunjuknya, beda. Pokoknya di air, tempat yang nggak jauh dari rumah, dan gelap. Semenjak saat itu kami sampaikan ke Linmas, mereka sampai salah mengira mencarinya di kali Jagir,” paparnya.
Di hari Kamis (21/6), satu hari sebelum jenazah Galang ditemukan, Kenzo menyampaikan kepada Desi bahwa besoknya atau Jumat (22/6), tepat tujuh hari meninggalnya Galang, jasadnya akan diketemukan.
Pernyataan Kenzo itu benar semua. Pihak kopolisian menemukan jenazah Galang. Tempat penemuan juga sama dengan ciri-ciri yang disampaikan oleh para indigo sebelumnya (jenazah Galang ditemukan di sumur milik warga Jalan Bendul Merisi Gang Makam, Red).
Rumah itu tak jauh dari kediaman orang tua Galang. “Sampai saat ini, kalau liputan di kepolisian orang-orang pada kenal saya karena anak saya, ‘Oh ini ibuknya Kenzo ya’,” kata Desi, sedikit malu. (*/opi)