Guru yang satu ini punya gaya pembelajaran yang unik. Koesmoko, pengajar pendidikan Bahasa Daerah di SMP PGRI 1 Buduran, kerap membawa wayang kulit saat mengajar anak didiknya.
"Banyak filosofi yang ada pada kesenian wayang. Di dalamnya ada pendidikan budi pekerti," katanya kepada dengan Radar Sidoarjo, Rabu (4/7).
Menurut Koesmoko, wayang tidak hanya tontonan, tapi juga ada tatanan dan tuntunan. Ada unggah-ungguh yang disampaikan dalam kesenian tradisional ini. "Bahkan, pada era Wali Songo, wayang bisa dijadikan sarana menyampaikan syiar agama," jelasnya.
Membawa wayang kulit dalam setiap pembelajaran menjadi daya tarik sendiri bagi peserta didik. Anak-anak generasi milenial itu tertarik dengan kesenian yang sudah langka itu. "Saya ingin mengenalkan kepada peserta didik agar tidak asing dengan budaya asli daerahnya. Alhamdulillah, mereka menyukai meskipun banyak sekali yang tidak paham dengan masing-masing tokohnya," katanya.
Melalui metode pembelajarannya yang unik, dengan alat peraga wayang kulit, Koesmoko mampu membina dan membimbing dua peserta didiknya yang akhirnya tertarik menjadi dalang. Padahal, sebelumnya kedua murid itu tidak punya basic wayang sama sekali. "Tapi dia sangat tertarik untuk belajar mendalang," ujarnya.
Kecintaannya terhadap kesenian wayang dimulai sejak kecil saat masih tinggal di Banyumas, Jawa Tengah. Meskipun besoknya harus masuk sekolah, setiap ada pertunjukan, di mana pun, pria kelahiran Semarang 1 Juni 1968 ini selalu menonton.
"Sejak kecil saya dididik dari keluarga yang njawani. Ayah dan kakek saya juga senang cerita wayang. Bahkan, saat itu dirumah banyak sekali bacaan mulai dari buku hingga serat yang menceritakan tentang pewayangan," ungkapnya.
Saat beranjak dewasa, ia sempat meminta izin kepada orang tuanya untuk nyantrik (berguru, red) kepada dalang yang ada di kampungnya. Namun, orang tuanya melarang. Khawatir kehidupannya tidak harmonis karena para dalang umumnya pergi malam pulang pagi. "Saya pun lebih nurut perkataan orang tua saya," ujarnya.
Meski demikian, kecintaannya terhadap wayang semakin bertambah. Bapak dua anak ini mengungkapkan, saat masih kecil dirinya juga pernah membuat wayang dari kardus dan ia mainkan. "Yang nonton juga teman-teman," tuturnya sembari tersenyum.
Dari sekian banyak cerita pewayangan, Koesmoko punya dua lakon favorit. Yakni Arjuna Wiwaha (Begawan Ciptaning) dan Bima Suci. Menurut dia, cerita ini punya filsafat yang sangat tinggi. "Kalau untuk tokohnya, saya mengidolakan Arjuna, tapi yang sisi positifnya, yakni ganteng, sakti, dan suka menolong. Tapi negatifnya Arjuna tidak tahan kalau lihat wanita cantik. Itu tidak perlu ditiru," pungkasnya. (mus/rek)
Editor : Lambertus Hurek