Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Heboh, Juwati, Warga Dukuh Menanggal Jual Ginjal untuk Belikan HP Anak

Administrator • Rabu, 7 Maret 2018 | 05:55 WIB
Juwati, Warga Dukuh Menanggal Jual Ginjal untuk Belikan HP Anak
Juwati, Warga Dukuh Menanggal Jual Ginjal untuk Belikan HP Anak

Juwati, 42 Warga Dukuh Menanggal Surabaya RT 2 RW 3 Nomer 1/26, melakukan tindakan nekat dengan menjajakan ginjalnya di jalan Frontage Ahmad Yani Surabaya, Senin (5/3). Aksi nekat ini ia lakukan lantaran dirinya ingin membelikan handphone (HP). Sebelumnya, HP anaknya hilang di salah satu warung.


Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya


Juwati yang sehari-harinya berjualan kaus kaki nekat melakukan aksi itu lantaran linglung karena tak memiliki uang untuk membelikan HP anak. 


Menurut keterangan warga sekitar, aksi Juwati ini dilakukan Senin siang pukul 14.00 sore. Juwati yang linglung setelah dilapori sang anak kehilangan HP, langsung pergi keluar rumah dengan pakaian lusuh yang ternyata diketahui menjajakan ginjal. 


“Yang saya tahu dia ya cuma jalan ke arah Frontage A Yani. Gak nyangka aja kalau perginya ternyata mau menjual ginjal,” ungkap salah satu tetangga, Juwati yang enggan disebutkan namanya, Selasa (6/3).   


Aksi nekat Juwati ini diketahui Satpol PP yang sedang patroli di sekitar Frontage A Yani. Setelah diinterogasi, akhirnya Juwari diantar pulang ke kediamannya di Dukuh Menanggal. Selasa pagi, beberapa orang dari Dinas Sosial dan kecamatan mendatangi kediaman Juwati untuk melihat kondisi rumah dan memberikan konseling. 


Baru Selasa siang, Juwati dijemput oleh tim dari Puspaga untuk dibawa ke Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Kota Surabaya untuk diberikan konsultasi. Nanik, Chairani, Ketua Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A) menjelaskan, dalam proses konseling ini diketahui bahwa ini merupakan tindakan spontanitas karena linglung.


“Tadi ibunya kooperatif saat kami wawancara. Ada masalah keluarga yang tidak bisa diceritakan. Cuma garis besarnya dirinya bingung karena tidak ada dana untuk membelikan HP untuk anak, sehingga ia putuskan untuk menjual ginjal,” jelasnya.


Menurut keterangan Nanik, ada benang merah yang melatarbelakangi Juwati melakukan aksi nekatnya. Hal ini lantaran ketakutan berlebihan dari dalam diri Juwati berkaitan dengan masa depan si anak. Dirinya takut, si anak gagal masa depannya karena putus sekolah lantaran tidak memiliki HP. 


“Takut anaknya gagal dimasa depan karena putus sekolah, dia khawatir, anaknya akan putus sekolah kalau gak punya HP. Padahal ya tidak ada ancaman dari sang anak mau putus sekolah,” ujar Nanik.   


Sementara, anak Juwati, FAW yang saat ini duduk di bangku kelas 2 SMK di Surabaya dikenal warga sebagai anak yang pendiam dan cendeung menurut terhadap orang tua. Hal ini disampaikan juga oleh Nanik,  dari interaksinya dengan Farhan, ia menyimpulkan kalau FAW bukan anak yang urakan. 


“Anaknya baik, pendiam, cuma kurang terbuka. Mungkin yang kurang ya itu, dia membutuhkan figur seorang ayah untuk berkomunikasi,” jelasnya.  


Juwati, dimata tetangganya dikenal sebagai sosok yang pendiam dan tertutup.  Pekerjaan sehari harinya adalah berjualan Kaus kaki yang hasilnya ia gunakan untuk menghidupi kedua anaknya yang masih sekolah dan kedua orang tua angkatnya yang sudah lansia. 


Dari perbuatan nekat ini, Juwati akan diberikan pendampingan berkala dari Puspaga Kota surabaya dengan didampingi konsultasi rutin tiap minggunya. Dia juga kedepannya mendapatkan dukungan untuk mengembangkan usahanya termasuk bagaimanana mengelola keuangan dan menambah laba penjualannya. (*/rud)

Editor : Administrator