Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kampung Pembuat Tampah di Seketi, Balongbendo, Ada Sejak 1930

Lambertus Hurek • Jumat, 19 Januari 2018 | 12:10 WIB
Kampung Pembuat Tampah di Desa Seketi, Balongbendo
Kampung Pembuat Tampah di Desa Seketi, Balongbendo

Meski berada di pinggiran Kota Sidoarjo, namun perekonomian masyarakat Desa Seketi, Kecamatan Balongbendo sangat bergeliat. Di desa yang berada di antara Kecamatan Krian dan Prambon ini, memiliki sentra UMKM pembuatan tampah (kerajinan dari bambo). Tampah-tampah ini dijual ke luar Sidoarjo.

MUS PURMADANI
Wartawan Radar Sidoarjo

MENILIK dari sejarahnya, pembuatan tampah di desa ini ternyata sudah turun temurun. Warga desa setempat sudah mulai merajut anyaman bambu menjadi tampah itu sejak tahun 1930-an. Bedanya, dulu perajinnya banyak, kini tinggal sekitar 17 orang yang masih bertahan.
Kepala Desa Seketi Seger Purwanto mengatakan cikal bakal perajin tambah ini bermula ketika puluhan tahun silam itu ada satu keluarga perantau asal Madura yang mengenalkan kerajinan ini kepada penduduk yang mayoritas bermata pencaharian petani. Ternyata, sejak pertama hingga saat ini kerajinan anyaman bambu tersebut tetap lestari. “Sehingga mampu menjadi mata pencaharian sekitar sebagian warga,” ungkapnya.
Ada bermacam produk dari para perajin bambu. Selain tampah, ada pula bakul nasi, hingga pengayak padi. Karena diproduksi sendiri, harga jualnya lebih murah daripada di pasaran. Sebaliknya, banyak tengkulak yang mengambil kerajinan dari Desa Seketi untuk dijual di pasar.
“Bahkan ada tengkulak yang datang dari Gresik dan Mojokerto,” jelasnya.
Seger mengungkapkan, desa akan memfasilitasi semua keperluan perajin karena produk ini sudah melegenda dan merupakan mata pencaharian utama bagi sebagian warga desa. Caranya dengan memberikan bantuan modal dari BUMDes. Ia juga menambahkan akan memfasilitasi pemasaran dan bahan baku, termasuk memberikan pelatihan bagi pemuda-pemuda desa dalam pengembangan produk anyaman bambu.
”Semua kebutuhan bagi perajin pihak desa akan berusaha memfasilitasi, karena anyaman bambu ini sudah menjadi ikon Desa Seketi,” jelas Seger.
Huda, salah satu perajin menuturkan sudah menjadi perajin sejak 10 tahun yang lalu. Dirinya belajar lewat orang tuanya dan kini bisnis keluarga tersebut mampu menghidupi keluarganya. Dalam sebulan, dirinya mampu menyelesaikan pesanan 50 buah per hari, tergantung dari ketersediaan bahan baku dan cuaca untuk mengeringkan bambu yang sudah dibelah.
Untuk pemasaran Huda mengaku sudah tidak kesulitan. “Karena ada yang mengambil untuk selanjutnya dipasarkan di kabupaten lain,” paparnya. (*/jee)

Editor : Lambertus Hurek