Memelihara merpati tak hanya untuk menyalurkan hobi semata. Namun, bagi sebagian orang, merpati dianggap sebagai hewan yang istimewa. Burung ini bisa dijadikan simbol kehebatan pemiliknya.
YUAN ABADI/M MAHRUS-Wartawan Radar Surabaya
Jadi, tak heran kalau banyak waktu, tenaga bahkan uang yang harus dikeluarkan untuk menjadikan burung merpati mampu meluncur cepat di angkasa. Semakin cepat semakin dicari.
Kecepatan dan manuver itu pula yang ingin dicapai oleh Alhafsi terhadap Kliwon, salah satu merpati peliharaannya. Berbagai cara dilakukan pria 30 tahun itu untuk menjadikan Kliwon sebagai penakluk kecepatan di angkasa. Latihan setiap hari adalah salah satu kegiatan wajib bagi Kliwon.
Pagi atau menjelang sore hari, Alhafsi mengajak Kliwon ‘jalan-jalan’. Kadang naik motort, sesekali juga mengendarai mobil. Kliwon diajak keliling untuk mengenalkan lingkungan dan rute bagaimana agar si merpati ini bisa pulang ke rumah, menemui kekasihnya. Setiap hari Kliwon harus menempuh jarak 10 kilometer (km) dengan kecepatan kurang lebih 60 km per jam.
Namun, sebelum menempuh jarak jauh, Kliwon harus menjalani training selama tiga bulan. Alhafsi dengan penuh kesabaran melatih Kliwon terbang cepat dengan jarak yang dekat, seperti lari sprint. Untuk menarik perhatian Kliwon, pria yang tinggal di Sepanjang, Sidoarjo tersebut membawa kekasih Kliwon. “Terbang sprint merupakan hal dasar untuk mengukur kecepatan dan manuver merpati. Sehingga sebenarnya tak hanya cepat, melainkan presisi pendaratannya juga harus tepat,” ungkap Alhafsi.
Alhafsi tak sendirian. Bersama teman sekampungnya, mereka membawa berbagai jenis burung merpati. Ssalah satu tanah kosong menjadi lahan mereka berkumpul untuk melatih sekaligus mengadu ketangkasan antara burung merpati yang satu dengan yang lain.
Latihan-latihan dasar yang kerap dilakukan, seperti melepas dari jarak pendek atau jarak jauh dan dari berbagai arah, hingga dapat menukik sebesar 90 derajat atau maksimal menukik sebesar 75 derajat, akan terlihat bahwa kualitas burung tersebut sudah layak menjadi merpati balap. “Kliwon sudah memiliki kemampuan itu. Ketangkasannya diperoleh dari latihannya,” imbuhnya.
Penghobi merpati balap sejak SMA ini mengatakan, sebelum melakukan serangkaian latihan, hal dasar yang harus diperhatikan adalah kualitas merpati. Banyak aspek, mulai dari postur tubuh dan juga bentuk sayap. Misal si merpati harus bertubuh tegap, paruh yang kecil serta mata yang tajam.
Meski demikian, pemilihan jagoan terbang tersebut tak gampang, butuh pengalaman. Sebab, orang yang sudah berpengalaman mampu mengetahui tanda atau ciri burung dengan kualitas baik hanya dengan melihat atau memegangnya saja. “Pemilihan merpati dengan kualitas baik sangat menunjang keberhasilan untuk menjadi juara. Namun, hal selain itu, juga diperlukan serangkaian latihan yang tepat dan kesabaran dari pelatihnya,” terang Alhafsi.
Meski Kliwon sudah memiliki kemampuan dasar sebagai merpati balap, namun Alhafsi mengaku ia belum siap diikutkan kejuaraan. Sebab, kecepatan dan ketepatan Kliwon belum terukur pasti. Kecepatannya selalu berubah-ubah. Sehingga Kliwon masih harus melakukan latihan.
Sebab, di beberepa komunitas merpati balap, rata-rata merpati yang juara sudah dilatih hingga satu tahun. Mereka memelihara dan merawat pasangan burung itu dengan serius. Selain melatih setiap hari, mereka juga memberikan suplemen mempengaruhi kecepatan terbang. “Sebenarnya kesulitan yang paling menjadi tantangan pelatih adalah bagaimana cara membuat pasangan merpati tersebut klop atau berjodoh,” terangnya.
Dia juga mengatakan, selain mental pelatih dan kecepatan burung, aturan dalam perlombaan juga menjadi faktor kenapa merpati yang diikutkan lomba harus benar-benar siap. Selain melibatkan ratusan peserta, biasanya juga terdapat beberapa kategori jarak. Yang paling pendek 500 meter dan terpanjang dua km.
“Yang paling sulit biasanya mengikuti perlombaan yang kategori kedua. Sebab, banyak peserta yang gugur dengan sendirinya karena tidak sampai finish atau justru mengarah ke burung lain (bukan pasangannya, Red),” lanjut Alhafsi.
Cara perlombaan balap burung ini sebenarnya cukup sederhana. Di garis start, pemilik burung merpati akan menerbangkan burung jantan. Sedangkan di garis finish sudah menunggu merpati betina. Pemilik burung yang menunggu di garis finish harus berada di tengah-tengah lingkaran yang sudah dibuat panitia.
“Peserta tidak boleh keluar dari lingkaran tersebut, jika keluar maka dipastikan akan gugur. Selain itu, ada saja yang tersasar, tapi pasti akan menghampiri. Hanya saja waktunya lebih lama,” terangnya.
Ada pula jenis perlombaan lain, yakni dengan cara melepaskan burung dari jarak berkilo-kilo meter kemudian adu cepat ke kandanganya. Biasanya burung akan dipandu dengan suara kentongan. Hanya saja, hal ini jarang di lakukan di perlombaan tingkat provinsi hingga nasional.
Meski dirinya belum pernah mengikuti perlombaan tingkat nasional, namun sebagai sesama pecinta burung balap ia merasakan sensasinya. Adrenalin akan terpancing ketika menunggu burung jantan menghampiri si betina. Pada momen tersebut yang terlintas di pikiran pemilik hanya kecepatan dan ketepatan saja.
“Pada momen tersebut akan terlihat gengsi dari masing-masing peserta. Sebab, menjadi juara adalah satu hal yang harus diraih atas semua energi yang terbuang untuk melatih dan merawat burung-burung tersebut,” terangnya.
Dia mengatakan, selain tenaga dan waktu, uang juga banyak dihabiskan oleh pemilik burung. Sebab, hanya untuk membeli burung yang berkuliatas saja, mereka harus merogoh kocek jutaan rupiah. Belum lagi jika burung tersebut terlatih dan sempat menjuarai beberapa perlombaan. “Harganya akan berlipat mencapai ratusan juta. Sehingga sebenarnya tak hanya adu ketangkasan saja, melainkan gengsi gede-gedean juga nampak saat perlombaan,” tandas Alhafsi.
Lain lagi cerita Roni, warga Medayu. Awalnya ia memelihara merpati karena hobi. Jumlahnya sekarang ini sudah 25 ekor. “Tapi, lama-lama kok saying kalau cumin buat hobi. Akhirnya ikutan buat aduan,” katanya.
Minimal sebulan dua kali Roni ikut adu merpati. Memang bukan skala besar dengan taruhan hingga puluhan juta rupiah. “Saya masih ratusan ribu kok,” sambungnya.
Bagi banyak orang, yang awalnya hanya sekadar hobi, lama-lama memelihara merapti memang bisa menjadi gengsi tersendiri. Apalagi jika merpatinya diikutkan aduan dan menang berkali-kali. “Makin mahal harga merpati, makin tinggi gengsi yang kita punyai,” imbuh Roni.
Di Surabaya, salah satu tempat yang sering digunakan untuk adu merpati adalah kawasan Ploso. Informasi yang diperoleh Radar Surabaya, di kawasan Ploso sering digelar adu merpati besar-besaran. Perputaran uangnya sudah puluhan juta rupiah. Bahkan ada yang bilang, sudah menembus angka Rp 80 juta. Setiap kali aduan, uang taruhannya bisa mencapai Rp 5 juta. Setiap hari juga digelar adu merpati. Tak tanggung-tanggung, yang datang juga puluhan penggemar merpati.
Pertengahan tahun lalu, kawasan Ploso ini pernah kena gerebek petugas.
Puluhan personel gabungan satpol PP, linmas, koramil, dan Polsek Tambaksari melakukan operasi pembongkaran pagupon di kawasan tersebut. Ketika itu, pasukan membawa alat las dan gergaji mesin. Puluhan pagupon dirobohkan. Termasuk fondasi yang terbuat dari besi. (*/opi)
Editor : Administrator