Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Dolanan untuk Anakku *)

Administrator • Selasa, 19 Desember 2017 | 23:22 WIB
Dolanan untuk Anakku
Dolanan untuk Anakku



SINAR matahari yang terik mengiringi langkah lincah gadis cilik ini. Dengan bersemangat, ia masuk ke rumahnya dan mengganti seragam TK-nya dengan kaus bergambar tokoh putri favoritnya. Ia langsung meraih ponsel pintar yang berukuran lebih besar dari telapak tangannya kemudian asyik menekan-nekan layarnya. Beginilah kebiasaan yang selalu dilakukan gadis cilik bernama Azzalea (5) tersebut sepulang sekolah. Biasanya ia menggunakan ponsel milik ibunya itu untuk bermain berbagai macam permainan digital selama berjam-jam hingga ia bosan dan tertidur.


Tidak jarang pula, ia keluar dari rumahnya, berjalan menuju rumah tetangga untuk mengajak temannya bermain. Dua bocah tersebut pun duduk di depan rumah, tidak terdengar nyanyian atau celotehan khas anak kecil seusianya. Yang terdengar hanyalah suara musik bernada ceria yang dikeluarkan oleh gawai masing-masing. Keduanya sangat fokus pada layar ponselnya, sesekali mereka saling menengok layar satu sama lain dan membandingkan permainan digital yang sedang dimainkan.


Kondisi ini sudah menjadi pemandangan yang wajar di kehidupan sehari-hari. Anak-anak seperti Azzalea memang gemar bermain gawai. Menurut survei yang dilakukan oleh U-Report Indonesia, alasan di balik kesukaan anak terhadap permainan digital adalah karena jenis permainan yang beragam, teknologinya yang canggih, akses yang mudah, dan diberikan fasilitas oleh keluarga.


Tetapi, masih banyak dari mereka yang akhirnya tidak tahu bahwa Indonesia sebenarnya memiliki banyak permainan yang tidak kalah dengan permainan digital. Egrang, congklak, gundu, ular naga, gasing, pletokan, dan lompat karet adalah beberapa di antaranya.


Menurut survei yang dilakukan oleh Komunitas Hong, komunitas permainan tradisional di Bandung, di antara lebih dari 1.000 macam permainan tradisional Indonesia, hanya 20 persen yang masih dimainkan oleh publik. Ditambah lagi, menurut data dari startup asal Inggris, SuperAwesome, sebanyak 70% anak-anak di wilayah ASEAN lebih senang bermain permainan digital daripada bermain di luar bersama teman-temannya.


Semakin daruratnya kondisi permainan tradisional mendorong beberapa kelompok untuk bergerak dalam melestarikan kearifan lokal ini. Contohnya adalah Traditional Games Returns (TGR) di Jakarta dan Kampoeng Dolanan di Surabaya. Mereka memiliki cara masing-masing untuk membuat permainan tradisional semakin dikenal dan diminati oleh anak-anak bangsa. Kedua komunitas tersebut sepakat bahwa peran orang tua adalah salah satu faktor yang dapat mengatasi ketidaktahuan anak terhadap permainan tradisional.


Pada awal Desember lalu, TGR bekerja sama dengan Komunitas Kebon Maen Depok mengadakan acara peringatan Hari Ayah 2017. Para ayah diajak untuk bermain sejumlah permainan tradisional seperti lompat karet, gundu, dan berbagai permainan yang biasa mereka mainkan di masa kecil lainnya. Selain bernostalgia, mereka juga diberikan pemahaman tentang permainan tradisional.


“Kita ingin buka perspektif baru bahwa permainan tradisional itu nilai-nilainya memang bisa diajarkan kepada orang tua untuk disampaikan kepada anaknya,” ujar Advisor dan Media Officer TGR, Citra Demi Karina.


Ada juga Komunitas Kampoeng Dolanan Surabaya, komunitas domisili Surabaya yang bergerak untuk melestarikan dan mengedukasi masyarakat akan nilai-nilai permainan tradisional. Ketua Kampoeng Dolanan, Mustofa Sam, mengatakan bahwa tidak hanya mengajak anak-anak bermain, mereka juga mengedukasi orang tua tentang filosofi permainan tradisional. “Harapannya ketika orang tua sudah paham dengan filosofinya, mereka bisa menjalin komunikasi dengan anaknya,” ujarnya.


Seperti yang dikatakan oleh Mustofa, permainan tradisional memiliki banyak nilai kehidupan sehari-hari yang bisa diajarkan orang tua kepada anak-anak. Contohnya adalah pada permainan congklak atau dakon. Mustofa menjelaskan bahwa biji-biji yang disebar di tiap lubang congklak dibaratkan seperti harta yang dimiliki oleh seseorang. Biji harus disebarkan di setiap lubang, baik milik pemain maupun milik lawan. Hal ini mengajarkan bahwa harta yang kita miliki harus disedekahkan kepada orang-orang yang dekat dengan kita, tidak terkecuali orang yang menjadi musuh kita. Selain itu, congklak juga mengajarkan kita untuk menabung.


Terkait dengan permainan tradisional, dosen Sastra Jawa Universitas Indonesia, Prapto Yuwono, S.S., M.Hum., urun pendapat. Menurutnya, permainan tradisional adalah imitasi visual dari perbuatan masyarakat yang dibenarkan bersama. Hal ini dapat diartikan bahwa melalui permainan tradisional, anak juga diajarkan norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat. “Manusia itu justru kecanggihan disini,” ujar Prapto sambil menunjuk ke dada. “Semakin canggih perasaan, maka semakin peka, tahu diri, sopan, manusiawi, dan menghargai orang lain. Tidak individual. Kalau orang yang sadar nilai tradisi, permainan tradisional itu untuk mencanggihkan batin, berbeda dengan permainan digital yang hanya menggunakan pikiran.” imbuhnya.


Sebagai generasi yang familiar dengan permainan tradisional, para orang tua pasti tahu bagaimana serunya bermain permainan tersebut bersama kawan-kawan. Melompati rangkaian karet gelang yang diangkat tinggi-tinggi, menjaga keseimbangan saat bermain engklek, mengadu gasing, bahkan saat terjatuh saat pertama kali bermain egrang pun merupakan pengalaman yang menimbulkan kesan tersendiri. Akan disayangkan jika ribuan macam permainan yang sarat akan nilai dan manfaat tersebut tergerus zaman karena hanya segelintir orang saja yang peduli.


Orang tua sebagai agen sosialisasi pertama, memegang peranan yang besar dalam mengarahkan anaknya untuk mengenal dan ‘kembali’ ke permainan tradisional. Tidak hanya dapat menuai manfaatnya, mengenalkan permainan tradisional kepada anak sama dengan melestarikan budaya Indonesia. Upaya tersebut juga menjadi salah satu cara untuk mengatasi masalah yang banyak dialami anak saat ini, yaitu kecanduan gawai.


Jika setiap orang tua sadar akan pentingnya permainan tradisional untuk anaknya, maka bukanlah perkara yang sulit untuk mengembalikan kejayaan permainan tradisional di tengah kecanggihan teknologi saat ini. (*)

Editor : Administrator