Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pamer Saldo Rp 99 Miliar, ATM Ditukar, Uang Dikuras

Administrator • Selasa, 19 Desember 2017 | 22:42 WIB
Pamer Saldo Rp 99 Miliar, ATM Ditukar, Uang Dikuras
Pamer Saldo Rp 99 Miliar, ATM Ditukar, Uang Dikuras

SURABAYA - Melihat saldo ATM sebesar Rp 99 miliar tentu membuat siapapun terlena. Modus itulah yang digunakan Yahya Rochim,59,  untuk memperdaya korbannya.
 Pria asal Pare-pare, Sulawesi Selatan yang tinggal di Jalan Gili V/7 Pabean Cantikan Surabaya ini menunjukkan saldo miliaran ruoiah untuk menyakinkan para korbannya Bahkan pelaku yang juga tinggal di Jalan Kedinding Gang Flamboyan, Kenjeran Surabaya itu, kerap mengaku sebagai pengusaha kelapa sawit di Brunai. Alhasil setelah korban percaya, Yahyapun segara menguras uang yang ada di ATM korban.
Dalam menjalankan aksinya, pria yang akrab dipanggil abah Yahya ini dibantu oleh tiga rekannya yakni M. Fachrizal alias Awang alias Rendy,39, warga pria asal Rappang, yang tinggal di Kalingga Tengah No. 10 RT 6/ RW 16, Srondol Wetan, Semarang dan Nasir,54, asal Jalan Tanah Kusir, Kebayoran Lama Selatan,  Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Sedangkan satu pelaku lagi berinisial IS, saat ini masih buron dan sedang diburu Tim Anti Bandit Satreskrim Polrestabes Surabaya.
Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Rudi Setiawan mengatakan ketiga tersangka tersebut ditangkap pada Minggu (17/12). Mereka diamankan di lokasi berbeda. Yahya ditangkap di rumah anaknya di Jalan Gili V/7 Pabean Cantikan Surabaya. Sedangkan dua tersangka lain yakni Rizal dan Nasir digerebak saat menginap di salah satu hotel di Jalan Ngagel Jaya Tengah IV Surabaya.
"Ketiga tersangka memang sudah kami buru sejak mereka melakukan aksinya pada pertengah Oktober lalu. Saat itu mereka berhasil menguras uang korban senilai Rp 45 juta," ungkap Kombes Pol Rudi Setiawan, Senin (18/12).
Rudi menambahkan dalam menjalankan aksinya, ketiga tersangka biasa berkeliling mall dan hotel untuk mencari sasaran. Bermodalkan gaya parlente mereka mencoba menyakinkan korban jika mereka merupakan pengusaha kelapa sawit di Brunai yang hendak mencari patner bisnis.  Yahya adalah inisiator dari komplotan ini, tugasnya langsung mencari calon korban.
"Setelah tersangka Yahya mendapatkan sasaran, dia mulai menyakinkan korban untuk bergabung dengan bisnisnya," terang perwira menengah dengan tiga melati di pundaknya ini. 
Diapun menjanjikan keuntungan hampir sepuluh persen dari jumlah modal yang disetorkan. Kemudian untuk membuat korban percaya, Yahya lantas melibatkan dua tersangka lain yakni Rizal dan Nasir. Tugas keduanya sama, yakni memberikan testimoni jika bisnis yang dikelola Yahya memang sangat menguntungkan. Bahkan mereka berani bermodal besar untuk bisnis tersebut.
"Tak berhenti sampai disana,  para tersangka juga menyakinkan korban dengan cara mengajaknya ke ATM. Disana mereka menunjukkan saldo di ATM mereka sebesar Rp 99 miliar. Padahal saldo tersebut hanya tampilan saja," lanjutnya.
Mantan Direskrimsus Polda Sumsel ini juga menjelaskan setelah korban percaya, para tersangka meminjam kartu ATM korban dengan maksud untuk melihat saldo terakhir di dalam kartu ATM korban. Hal itu dilakukan para tersangka dengan alibi sebagai jaminan awal bekerja sama. Setelah kartu ATM korban terdapat sisa saldo, dengan cepat, tersangka Fachrizal menukar kartu ATM korban dengan kartu ATM palsu yang sudah disiapkan.
"Namun sebelum menukarkan kartu ATM tersebut, tersangka ini sudah mengawasi nomor PIN korban," terangnya.
Usai menukar kartu ATM milik korban, para tersangka meninggalkan korban dan meninggalkan nomor telepon yang bisa dihubungi jika korban berminat. Padahal itupun nomor palsu. Setelah meninggalkan korban, mereka segera menuju ATM lain untuk menguras uang yang ada di ATM korban. Akibat aksi mereka, korban kehilangan uang Rp 45 juta.
"Modus ini sudah mereka gunakan sebanyak 8 kali. Lokasinya tersebar, mulai dari Bali, Jakarta dan Surabaya. Hanya saja di Surabaya, kami baru mendapatkan laporan satu orang saja," terangnya. 
Sementara itu, Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Leonard Sinambela mengungkapkan meski penukaran kartu ATM tersebut merupakan modus  lama, namun ada hal baru yang digunakan komplotan ini. Yakni menggunakan tampilan ATM dengan saldo Rp 99 miliar. Menurut Leo, komplotan itu bisa melakukan hal itu karena kartu yang dipakai merupakan kartu khusus yang dibeli oleh para tersangka seharga Rp 1 juta di Jakarta.
"Memang jika dimasukkan ke mesin ATM, secara otomotasi akan menampilkan saldo miliaran tersebut. Padahal sebenarnya itu hanyalah kartu kosong," jelasnya.
Jaringan penjual aplikasi kartu ATM inilah yang saat ini tengah diselidiki oleh timnya. Sebab di Surabaya sendiri, kejahatan dengan modus aplikasi kartu ATM tersebut, adalah kejahatan dengan modus baru.
"Para tersangka ini mengaku, sudah 15 tahun menjalankan aksinya. Namun cara penipuannya terus update mengikuti trend dan teknologi yang berkembang. Mereka sampai lupa dimana saja beraksi," sambung AKBP Leonard.
Sindikat penipuan ini, lanjut Leonard, memanfaatkan home stay dan hotel untuk menginap. Otak pelaku komplotan ini adalah tersangka Yahya. Yahya-lah yang selama ini melalukan pemetaan dan arah sasarannya. Setiap kali beraksi, kelompok ini mengunakan sarana mobil milik masing-masing secara bergantian.
"Mereka juga berpakaian parlente agar korban percaya bahwa mereka adalah pengusaha," pungkasnya. (yua/ru)

Editor : Administrator
#penipuan